SURAKARTA || jatenggayengnews.com – Putra Mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Hamengkunegoro, baru-baru ini mengungkapkan kritik pedas terhadap kondisi Indonesia melalui unggahan di Instagram story pribadinya, @kgpaa.hamengkunegoro. Unggahan yang berisi kalimat “Nyesel gabung Republik” tersebut langsung viral dan menuai berbagai reaksi dari masyarakat. 2 Maret 2025
KPA H Dany Nur Adiningrat, Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, menjelaskan bahwa unggahan tersebut merupakan bentuk reaksi terhadap berbagai permasalahan yang sedang melanda Indonesia. Isu-isu nasional seperti kasus Pertamax oplosan yang merugikan negara hampir Rp 1.000 triliun, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di PT Sritex, kasus korupsi timah, serta kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tegas dalam penanganan kasus pagar laut, menjadi dasar kritik tersebut.
“Unggahan ini muncul karena keprihatinan mendalam atas kondisi bangsa saat ini. Beliau melihat banyak masalah yang tidak kunjung selesai, mulai dari BBM oplosan, PHK massal, hingga korupsi besar-besaran. Ini adalah bentuk kepedulian seorang putra mahkota terhadap bangsanya,” ujar Dany pada Sabtu (1/3/2025).
Selain masalah nasional, Dany juga menyoroti ketidakjelasan status Daerah Istimewa Surakarta (DIS), yang hingga kini belum direalisasikan oleh pemerintah, termasuk hak-hak dan aset Keraton Solo yang belum diberikan.
“Keraton Surakarta memiliki sejarah panjang yang seharusnya dihormati. Janji pemerintah terkait DIS dan pengembalian aset yang belum dipenuhi mungkin juga menjadi salah satu alasan beliau mengungkapkan pernyataan tersebut,” tambah Dany.
Jejak Digital dan Respons Masyarakat
Meskipun unggahan tersebut telah dihapus, jejak digitalnya sudah tersebar luas di media sosial. Salah satu akun Twitter, @BebySoSweet, mengunggah ulang tangkapan layar unggahan tersebut dengan menambahkan tagar #IndonesiaGelap.
Selain kalimat “Nyesel gabung Republik”, KGPAA Hamengkunegoro juga menuliskan pesan lainnya, yakni “Percuma Republik Kalau Cuma Untuk Membohongi”, yang semakin mempertegas kritiknya terhadap tata kelola negara saat ini.
Pesan untuk Pemerintah
Dany menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukanlah bentuk provokasi, melainkan ekspresi satir dari seorang tokoh yang memiliki tanggung jawab moral terhadap bangsa.
“Sebagai pewaris darah Majapahit dan Kerajaan Mataram, beliau tentu tidak akan berbicara sembarangan. Ini adalah peringatan keras yang seharusnya disikapi dengan bijak oleh pemerintah,” tegas Dany.
Kritik KGPAA Hamengkunegoro ini menjadi pengingat bahwa suara dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan bangsawan, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi dan mewujudkan keadilan sosial di Indonesia.






