LOMBOK TENGAH || jatenggayengnews.com – Kasus dugaan kekerasan yang menimpa tiga santri di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati.
Peristiwa tragis tersebut mengakibatkan satu santri meninggal dunia, sementara dua santri lainnya mengalami luka bakar serius dan masih menjalani perawatan intensif di rumah masing-masing. Kedua korban yang selamat diketahui berinisial ADR (13) dan SAH (13), warga Kecamatan Batukliang.
Atas kejadian tersebut, Sari Yuliati menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban sekaligus menegaskan pentingnya pengusutan kasus secara menyeluruh.
“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa seseorang, terlebih terhadap santri-santri yang sedang menuntut ilmu,” ujar Sari Yuliati, Senin (8/6/2026).
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Pulau Lombok, ia meminta aparat penegak hukum bekerja secara profesional, transparan, dan tidak tebang pilih dalam menangani perkara tersebut.
Menurutnya, seluruh pihak yang terlibat maupun yang terbukti lalai harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Saya meminta aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus ini secara menyeluruh. Tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku maupun pihak yang terbukti lalai sehingga peristiwa ini dapat terjadi. Keadilan harus ditegakkan dan keluarga korban berhak mendapatkannya,” tegasnya.
Sari Yuliati menilai kasus ini harus menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat sistem perlindungan anak di lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren. Evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengawasan dan keamanan santri dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta memberikan stigma negatif kepada seluruh pondok pesantren akibat peristiwa tersebut.
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak pesantren di berbagai daerah yang menjalankan fungsi pendidikan dengan baik serta menjadi tempat yang aman bagi para santri untuk menimba ilmu dan membangun karakter.
“Kita tidak boleh menghakimi seluruh pesantren hanya karena perbuatan segelintir oknum. Saya meyakini masih banyak pesantren di Lombok maupun di seluruh Indonesia yang menjadi tempat menuntut ilmu yang aman, membentuk karakter, akhlak, dan masa depan generasi muda bangsa,” ujarnya.
Kasus yang mengguncang masyarakat Lombok Tengah itu kini masih dalam penanganan aparat penegak hukum. Publik berharap proses penyelidikan dapat mengungkap fakta secara terang benderang sekaligus memberikan keadilan bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.






