Warga Binangun Cemas Ancaman Longsor

Nasional21 Dilihat

BATANG || jatenggayengnews.com — Kekhawatiran akan bencana longsor menghantui warga Desa Binangun, Kabupaten Batang. Ancaman itu dirasakan langsung oleh Zaenal Arifin, yang mengaku keluarganya hidup dalam kecemasan setiap kali hujan turun.

Di belakang rumahnya, aliran air yang dulunya kecil kini berubah menjadi ancaman serius akibat erosi yang terjadi selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membentuk jurang sedalam sekitar 12 meter dengan tebing curam tanpa penahan, yang letaknya hanya beberapa langkah dari rumah warga.

“Setiap hujan turun, kami tidak bisa tenang. Takut tiba-tiba longsor,” ujar Zaenal.

BACA JUGA  Penguatan Kesiapsiagaan BAZNAS Tanggap Bencana di Grobogan Tahun 2025

Ia menilai, kondisi itu bukan sekadar potensi bencana, melainkan ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada penanganan konkret dari pemerintah setempat.

“Kalau menunggu terus, kami harus bagaimana? Apa harus menunggu terjadi dulu baru ada tindakan?” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Desa Binangun, Abrori, menyampaikan bahwa kondisi tersebut sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah desa. Ia menjelaskan, rumah yang paling dekat dengan tebing berada di lahan milik warga bernama Ribut Subiri.

BACA JUGA  Jaga Kedaulatan Negara, Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 10/ Bradjamusti Patroli Patok Batas Negara

“Dari tahun kemarin sebenarnya sudah kami anggarkan untuk pemasangan bronjong. Namun karena adanya efisiensi anggaran, saat ini kami masih memprioritaskan pekerjaan fisik di jalan utama,” jelas Abrori.

Ia menambahkan, pemerintah desa masih berupaya mencari solusi alternatif agar penanganan bisa segera dilakukan.

“Mudah-mudahan bisa kami usahakan melalui bantuan dana aspirasi dewan,” katanya.

BACA JUGA  Purbaya Tanggapi Kritik Rocky Gerung, Tunjukkan Data Ekonomi Nasional

Zaenal berharap Pemerintah Kabupaten Batang segera turun tangan sebelum terjadi bencana. Menurutnya, pembangunan talud atau penahan tebing merupakan kebutuhan mendesak demi keselamatan warga.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan klasik di daerah, antara keterbatasan anggaran, prioritas pembangunan, dan risiko yang harus dihadapi masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, warga berharap kehadiran pemerintah dapat lebih cepat dirasakan saat ancaman bencana sudah berada di depan mata.