BLORA||Jatenggayengnews.com_Jumat siang itu, 17 Juli 2026, matahari Blora sedang terik-teriknya. Di salah satu sudut warung sederhana yang legendaris, aroma kuah santan kental yang gurih meruyak ke udara, bercampur wangi khas daun pisang yang menjadi alas piring.
Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, tampak tersenyum lebar. Di hadapannya, duduk Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Prof. Dr. Ir. Ahmad Erani Yustika, yang datang jauh-jauh dari Jakarta bersama rombongan. Turut mendampingi pula Direktur PEM Akamigas Cepu, Dr. Erdila Indriani,
Namun, alih-alih menjamu sang tamu agung di ruang VIP hotel berbintang atau restoran formal dengan protokoler ketat, Bupati Arief justru memboyong rombongan pejabat kementerian ini ke sebuah warung lokal: Lontong Opor Pak Pangat Ngloram.
Bagi Arief Rohman, meja makan di warung rakyat adalah ruang diplomasi terbaik.
Diplomasi di Atas Piring Lontong
“Dari tampilannya saja ini sudah menggugah selera. Berasa suasana Lebaran terus kalau kulineran Lontong Opor Pak Pangat Ngloram ini,” seloroh Bupati Arief di sela-sela suapannya.
Bagi orang nomor satu di Blora ini, mengajak tamu penting makan di warung lokal bukan sekadar urusan mengisi perut kosong. Ini adalah strategi matang yang ia sebut sebagai diplomasi kuliner. Sebuah taktik gerilya untuk mempromosikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Blora langsung ke jantung pembuat kebijakan nasional.
“Kami ingin setiap tamu yang datang ke Blora tidak hanya membawa kesan baik terhadap daerah ini, tetapi juga mengenal kekayaan kuliner dan produk-produk UMKM yang dimiliki masyarakat. Ketika mereka menikmati dan memberikan apresiasi, secara tidak langsung mereka ikut menjadi duta promosi bagi Blora,” jelas Arief dengan mata berbinar.
Arief percaya bahwa pengalaman sensorik—merasakan langsung kelezatan makanan di tempat asalnya—jauh lebih membekas di ingatan ketimbang brosur wisata setebal apa pun. Ketika ingatan itu melekat, ia akan bertransformasi menjadi cerita yang dibawa pulang ke ibu kota, membuka pintu peluang investasi, hingga memperluas pasar bagi para perajin rasa di tingkat lokal.
Ketika Opor Lain “Gugur Sebelum Semifinal”
Strategi “menaklukkan” lidah pejabat ini tampaknya berhasil total. Prof. Ahmad Erani Yustika, yang terbiasa dengan jamuan formal, tampak begitu menikmati hidangan tradisional di depannya. Pujian pun meluncur spontan dari sang Sekjen Kementerian ESDM.
“Dulu saya membayangkan kalau opor yang enak itu berasal dari tempat kelahiran saya atau dari kabupaten/kota lain,” aku Prof. Erani jujur. “Tapi setelah merasakan langsung Lontong Opor Pak Pangat Ngloram, ini yang paling top. Yang lain gugur sebelum semifinal!” selorohnya yang langsung disambut tawa renyah seisi warung.
Secara detail, Prof. Erani memuji tekstur makanan yang disajikan. “Lontongnya tidak terlalu padat sehingga sangat enak, dipadukan dengan opor yang rasanya luar biasa,” tambahnya.
Apresiasi jujur dari seorang pejabat pusat ini jelas menjadi angin segar sekaligus suntikan modal psikologis yang luar biasa bagi pelaku UMKM kuliner di Blora. Pengakuan ini menegaskan bahwa cita rasa lokal Blora tidak kalah saing dengan kuliner kota-kota besar.
Menjaga Fondasi Ekonomi Rakyat
Bagi Pemerintah Kabupaten Blora,
Lontong Opor Pak Pangat hanyalah satu dari ribuan potret UMKM yang sedang didorong untuk “naik kelas”. Pemerintah daerah menyadari betul bahwa UMKM adalah pilar utama yang menjaga nadi perekonomian warga tetap berdenyut.
Oleh karena itu, dukungan yang diberikan tidak berhenti di meja makan Pak Pangat saja. Pemkab Blora secara paralel terus menggenjot program pemberdayaan:
Pendampingan usaha dan pelatihan berkala.
Fasilitasi kemudahan perizinan.
Penguatan branding dan digitalisasi pemasaran.
Membuka akses promosi di berbagai event daerah hingga kancah nasional.
Bupati Arief Rohman menegaskan bahwa kemajuan Blora tidak boleh hanya diukur dari megahnya proyek infrastruktur fisik, melainkan dari seberapa berdaya ekonomi masyarakatnya.
Melalui sepiring lontong opor ayam kampung yang hangat, Blora sedang mengirimkan pesan ke tingkat nasional: bahwa di ujung Jawa Tengah ini, ada rasa yang berkelas, ada UMKM yang tangguh, dan ada keramahan yang selalu siap menyambut siapa saja yang datang.






