Ruwatan Kebangsaan Digelar di Tipikor Semarang

Semarang ||Jatenggayengnews.com– Sejumlah tokoh spiritual, budayawan, dan masyarakat menggelar Ruwatan Kebangsaan di depan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Rabu (29/7/2026). Kegiatan tersebut dipimpin oleh K.A. Robani Albar yang dikenal sebagai “Mbah Kyai Pancasila”, bersama Riyanta, tokoh spiritual Gunung Kendeng, Nur Sholikan atau Mbah Semar, serta sejumlah rekan lainnya.

Aksi doa bersama itu digelar sebagai bentuk keprihatinan terhadap maraknya kasus dugaan korupsi yang belakangan mencuat. Menurut penyelenggara, ruwatan merupakan ikhtiar spiritual dan budaya yang bertujuan mendoakan agar penegakan hukum berjalan adil serta bangsa Indonesia terhindar dari berbagai musibah.

Prosesi ruwatan menggunakan sarana berupa dupa, kemenyan, dan kembang setaman, disertai doa dalam bahasa Arab dan Jawa sebagai simbol permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar negeri ini senantiasa mendapat perlindungan.

BACA JUGA  Tingkatkan Kesiapsiagaan, Polres Grobogan Gelar Latihan Pengendalian Massa

Dalam doa bersama tersebut, penyelenggara menyampaikan tiga harapan utama, yakni agar para hakim senantiasa menjunjung tinggi integritas dan keadilan dalam menjalankan tugas, para pelaku korupsi memperoleh kesadaran untuk bertobat dan mengembalikan hak rakyat, serta bangsa Indonesia dijauhkan dari bencana, perpecahan, dan berbagai bentuk kemungkaran.

K.A. Robani Albar mengatakan bahwa ruwatan yang digelar bukanlah praktik mistik, melainkan bagian dari tradisi budaya Jawa yang dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dan bangsa dari sifat-sifat buruk, termasuk korupsi.

“Ini cara kami orang Jawa untuk meruwat negeri. Membersihkan dari bala, dari sifat serakah, dari korupsi. Kami mendoakan para hakim kuat iman dan adil. Kami juga mendoakan para koruptor luluh hatinya. Karena kalau negeri ini rusak karena korupsi, yang paling menderita adalah rakyat kecil,” ujar Robani.

Sementara itu, Riyanta menyampaikan bahwa Gunung Kendeng merupakan simbol penjaga sumber air dan kehidupan. Menurutnya, air mengalir secara adil kepada semua, sedangkan korupsi diibaratkan sebagai bendungan yang menghambat kesejahteraan masyarakat.

“Air itu adil, mengalir ke semua. Korupsi itu seperti bendungan yang menghalangi air. Karena itu harus kita ruwat bersama,” katanya.

Kegiatan tersebut dihadiri santri, budayawan, pegiat antikorupsi, dan masyarakat umum. Acara ditutup dengan tabur bunga serta doa bersama sebagai harapan agar Indonesia menjadi bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat.

file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2