jatenggayengnews.com – Lubang raksasa di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus melebar dan menggegerkan warga. Pergerakan tanah yang telah dicatat Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh sejak 2011 itu kini mencapai lebih dari 30 ribu meter persegi atau sekitar 3 hektare dan mengancam infrastruktur di sekitarnya.
Fenomena tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan dan disebut sebagai sinkhole. Namun, Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Salahuddin Husein, menegaskan bahwa peristiwa itu bukanlah sinkhole.
“Dampak yang terkena adalah infrastruktur jalan dan ladang warga,” ujar Salahuddin kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Ia menjelaskan, lubang raksasa itu diduga merupakan fenomena piping erosion atau erosi air bawah tanah yang membentuk saluran menyerupai pipa. “Piping erosion atau erosi air bawah tanah yang membentuk saluran serupa pipa, lazimnya terjadi di dasar bendungan atau tanggul sungai,” jelasnya.
Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan dengan terbentuknya Ngarai Ketol yang berkembang pada batuan piroklastika muda dari Gunung Geureudong. Ia membandingkan prosesnya dengan Ngarai Sianok yang terbentuk akibat erosi sungai pada material vulkanik.
“Sementara, Ngarai Ketol merupakan hasil erosi Sungai Lampahan terhadap piroklastika Gunung Geureudong yang terletak di sebelah timur lautnya,” terangnya.
Salahuddin juga menjelaskan peran erosi menghulu (headward erosion) yang membuat ngarai terus memanjang ke arah lereng atas. Kondisi itu diperparah banjir bandang pada akhir November 2025, ketika debit air anak Sungai Lampahan meningkat drastis.
“Hal ini terjadi karena anak Sungai Lampahan menerima debit yang sangat besar, menuruni lereng Gunung Geureudong dengan kecepatan dan volume luar biasa, sehingga mampu menciptakan erosi vertikal dan erosi menghulu di Kampung Pondok Balik tersebut,” ujarnya.
Ia memperkirakan Ngarai Ketol akan terus berkembang hingga berpotensi terhubung dengan lembah Sungai Baleg yang berjarak sekitar 500 meter. Jika itu terjadi, fenomena pembajakan sungai (stream piracy) dapat berlangsung.
“Kelak Sungai Baleg ini dapat disebut sebagai sungai terpancung (beheaded stream) karena kehilangan aliran airnya,” jelas Salahuddin.
Fenomena serupa, lanjutnya, pernah terjadi pada Bengawan Solo yang diduga jutaan tahun lalu mengalir ke selatan sebelum akhirnya berbelok ke utara akibat proses tektonik dan erosi mundur.
Ia juga mencontohkan kasus pembajakan sungai paling dramatis di dunia, yakni antara Sungai Mississippi dan Sungai Atchafalaya di Amerika Serikat.
“Pengendaliannya sebagaimana di Sungai Mississippi membutuhkan biaya yang sangat besar,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi di Aceh Tengah, Salahuddin menyarankan tiga hal utama, yakni membiarkan proses erosi menghulu berlangsung secara alami, menutup jalan penghubung Ketol–Pante Raya yang telah terputus dan mengalihkan akses melalui Kute Panang serta Segene Balik, serta merelokasi rumah warga terdampak.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan proses alamiah, namun tetap memerlukan mitigasi serius untuk meminimalkan risiko terhadap masyarakat dan infrastruktur.







