Jogja || Jatenggayengnews.com-Apem beras menjadi salah satu kuliner legendaris yang masih bertahan hingga kini. Jajanan tradisional bercita rasa manis dan gurih ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu serta memiliki nilai historis dan budaya yang kuat, khususnya di wilayah Jawa. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, apem beras tetap eksis sebagai bagian dari tradisi keagamaan dan adat.
Kuliner tradisional ini hadir dalam berbagai ritual, seperti tradisi Ngapem yang dilaksanakan setahun sekali oleh Keraton Yogyakarta dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan naik takhta Sultan. Selain itu, apem juga lekat dengan tradisi Ruwahan Apem yang biasa digelar menjelang bulan Ramadan.
Secara etimologis, kata apem diyakini berasal dari bahasa Arab, yakni “afuum” atau “affuwun” yang bermakna ampunan. Dalam tradisi Jawa, apem dimaknai sebagai simbol permohonan ampun kepada Sang Pencipta. Filosofi tersebut menjadikan apem kerap digunakan dalam berbagai upacara adat, mulai dari syukuran, kehamilan, khitanan, pernikahan, hingga upacara kematian.
Hingga saat ini, apem beras masih mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional, salah satunya Pasar Ngasem Yogyakarta. Di pasar tersebut, apem beras bahkan menjadi kuliner ikonik yang banyak diburu wisatawan.
Salah satu pelaku usaha yang menjaga keberlangsungan kuliner tradisional ini adalah Apem Beras Bu Wanti. Usaha yang dirintis sejak era 1990-an tersebut kini dikelola oleh generasi kedua dengan tetap mempertahankan cita rasa dan proses pembuatan tradisional menggunakan arang. Harga satu buah apem beras pun terjangkau, yakni Rp4.000 per buah.






