KUDUS || jatenggayengnews.com – Sebanyak 62 sekolah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdampak banjir akibat curah hujan yang masih tinggi. Kondisi tersebut memaksa kegiatan belajar mengajar (KBM) sementara dialihkan secara daring atau online demi keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan kebijakan pembelajaran daring akan terus diterapkan selama sekolah masih terdampak banjir.
“Kegiatan belajar mengajar secara daring tetap akan digelar selama sekolah tersebut masih terdampak banjir,” kata Anggun Nugroho, dikutip dari Antara, Kamis (15/1/2026).
Anggun menjelaskan, data jumlah sekolah terdampak banjir akan terus dimutakhirkan mengingat intensitas hujan masih tinggi. Banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus dan berdampak langsung pada aktivitas pendidikan, khususnya sekolah dasar (SD) dan TK di beberapa kecamatan.
Puluhan sekolah terpaksa menghentikan KBM tatap muka. Disdikpora Kabupaten Kudus pun mengimbau seluruh satuan pendidikan yang terdampak banjir untuk meliburkan siswa dan mengganti pembelajaran dengan sistem daring.
“Seluruh sekolah kami minta mengutamakan keselamatan warga sekolah, terutama siswa. Jangan memaksakan kegiatan tatap muka apabila kondisi tidak memungkinkan dan berisiko,” ujar Anggun.
Selain itu, pihak sekolah diminta mengamankan aset-aset penting, seperti perangkat elektronik, alat peraga, dan buku pelajaran agar tidak rusak akibat genangan air. Para guru juga diminta tetap aktif memantau perkembangan siswa dari rumah melalui WhatsApp Group (WAG) atau platform pembelajaran lainnya. Guru pun dapat mengajukan izin work from anywhere (WFA) maupun permohonan toleransi keterlambatan.
Sementara itu, Guru Kelas 6 SD Negeri 3 Pasuruhan Lor, Muhammad Sa’id, mengatakan banjir mulai terjadi setelah siswa selesai mengikuti KBM pada Senin siang (12/1/2026). Sekolah tersebut memiliki 78 siswa yang seluruhnya berasal dari Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor.
“Karena halaman sekolah tergenang banjir, maka siswa diliburkan. Sedangkan pembelajaran tatap muka diganti secara daring,” ujarnya.






