Eksekusi Lahan Dusun Patemon, Warga Menangis Saat Makam Digusur

Nasional533 Dilihat

Foto: Eksekusi Lahan Dusun Patemon, Warga Menangis Saat Makam Digusur

PROBOLINGGO || jatenggayengnews.com – Suasana haru sekaligus tegang mewarnai pelaksanaan eksekusi lahan di Dusun Patemon, Desa Alaspandan, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, pada Rabu (15/10/2025). Proses tersebut dilaksanakan setelah perkara kepemilikan tanah dinyatakan memiliki kekuatan hukum tetap (inkrah) oleh pengadilan.

Sejak pagi, suara mesin ekskavator memecah kesunyian. Sejumlah personel Dalmas diterjunkan untuk menjaga keamanan di lokasi agar proses eksekusi berjalan tertib. Setelah pembacaan amar putusan dilakukan, alat berat mulai bekerja menertibkan objek perkara. Beberapa petugas berseragam juga terlihat menggunakan gergaji mesin untuk menebangi pohon di area tersebut.

BACA JUGA  Penanaman Bersama Mitigasi Bencana dan Lestarikan Lingkungan Blitar

Namun, momen paling menyayat hati terjadi ketika petugas harus membongkar sejumlah makam keluarga almarhum Saisin yang telah puluhan tahun berada di atas lahan itu. Warga tampak menahan air mata saat menyaksikan satu per satu nisan dibuka dan jenazah dipindahkan ke lokasi pemakaman baru. Nama-nama seperti Pak Moden, Sina, Bu Yamin, dan Saisin disebut dengan lirih oleh warga yang larut dalam duka.

Kuasa hukum pihak terlapor, Prayuda, menyampaikan bahwa pihaknya menghormati keputusan pengadilan, namun ia menilai pelaksanaan eksekusi harus benar-benar sesuai dengan isi putusan hukum. “Kami tidak menolak pelaksanaan eksekusi, tapi kami berharap objek perkara diverifikasi kembali. Jika terdapat ketidaksesuaian antara amar putusan dan objek, maka hal itu bisa menjadikan putusan non-eksekutabel,” ungkapnya kepada awak media.

BACA JUGA  Bupati Temanggung Minta CPNS STTD Jadi Pelayan Masyarakat yang Baik

Dengan tenang, Yudha membawa salinan undang-undang ke lokasi eksekusi, bukan untuk melawan, melainkan mengingatkan pentingnya pelaksanaan hukum yang berkeadilan. “Hukum seharusnya menjadi sarana keadilan, bukan menimbulkan luka,” ujarnya lirih di sela hiruk-pikuk alat berat yang bekerja.

Warga sekitar hanya bisa menatap pilu saat rumah dan makam leluhur mereka diratakan dengan tanah. Di balik tumpukan debu dan reruntuhan, tersisa kenangan dan silsilah keluarga yang terpaksa ikut berpindah. Hari itu, Dusun Patemon menjadi saksi bahwa bahkan mereka yang telah tiada pun belum tentu bisa beristirahat dengan tenang.

Gambar 3
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2