Dokumenter “Puncak Gunung Es” Ungkap Dugaan Kejahatan Perang Israel

Nasional424 Dilihat

jatenggayengnews.com – Sebuah dokumenter investigatif berjudul Ma Khafiya Aatham atau Puncak Gunung Es, yang tayang pada 20 Oktober 2025, memicu kehebohan internasional setelah mengungkap dugaan keterlibatan langsung tentara Israel dalam pembunuhan Hind Rajab, bocah Palestina berusia lima tahun yang tewas bersama keluarganya di Kota Gaza pada akhir Januari 2024.

Film dokumenter yang diproduksi oleh Hind Rajab Foundation itu menampilkan bukti-bukti baru, termasuk rekaman suara Hind saat menghubungi paramedis setelah mobil keluarganya diberondong peluru. Dalam rekaman tersebut, Hind terdengar panik dan ketakutan, memohon pertolongan setelah melihat paman, bibi, dan tiga sepupunya tewas di tempat.

Namun, tim paramedis yang dikirim untuk menyelamatkannya juga menjadi korban dalam insiden tragis itu. Pemerintah Israel sempat membantah keterlibatan pasukannya, mengklaim bahwa tidak ada operasi militer di lokasi ketika penembakan terjadi.

BACA JUGA  Forkopimda Labuhanbatu Siapkan Pengamanan Ramadan 1447 H

Klaim tersebut kemudian dipatahkan setelah ditemukan 335 lubang peluru di mobil keluarga Rajab. Militer Israel menyebut penembakan itu sebagai akibat baku tembak antara tentaranya dan pejuang Palestina, namun hasil penyelidikan dari kelompok riset independen Forensic Architecture membantah keras pernyataan itu.

“Analisis kami menunjukkan hanya ada tank Merkava milik Israel di sekitar lokasi. Tidak ditemukan bukti adanya tembakan balasan dari pihak lain,” ungkap tim Forensic Architecture dalam dokumenter tersebut.

Investigasi lanjutan berhasil mengidentifikasi Kolonel Beni Aharon dari Brigade Lapis Baja 401 sebagai komandan unit tank yang berada di lokasi kejadian. Hind Rajab Foundation telah melaporkan Aharon ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang.

Lebih jauh, dokumenter itu menyingkap keberadaan kompi bernama Kekaisaran Vampir, unit di bawah Brigade 401 yang diduga bertanggung jawab atas pembunuhan keluarga Rajab dan perusakan tempat kejadian perkara. Kompi tersebut dipimpin Mayor Sean Glass dan berada di bawah Batalion Lapis Baja 52 yang dikomandoi Kolonel Daniel Ella.

BACA JUGA  Hari Bhayangkara ke-79 di Monas, Ribuan Warga Antusias Nikmati Layanan Gratis dan Hiburan Rakyat

Ella dituding memiliki tanggung jawab langsung atas berbagai aksi pembunuhan yang dilakukan pasukan Israel di Gaza. Salah satu anggota kompi, Itay Choukirkov, warga Israel-Argentina, saat ini tengah menghadapi tuntutan hukum di Argentina terkait keterlibatannya dalam insiden tersebut.

Pakar keamanan Israel Yossi Melman dalam dokumenter itu menilai, kampanye seperti ini membuat pemerintah Israel tidak nyaman.

“Pemerintah Israel tidak menyukai kampanye yang dibiayai oleh organisasi pendukung warga Palestina. Hal ini merusak citra Israel, terutama ketika beberapa warga dan anggota militernya didakwa atas kejahatan perang di berbagai negara,” ujarnya.

Selain kasus Hind Rajab, dokumenter itu juga mengungkap bahwa Batalion Lapis Baja 52 merupakan unit pertama yang masuk ke Gaza pada Oktober 2023. Unit ini diduga terlibat dalam operasi militer paling mematikan, termasuk penghancuran sejumlah fasilitas rumah sakit di Gaza.

BACA JUGA  Konflik Politik Pati Memanas, Sudewo Serang Plt Bupati Risma

Rilis dokumenter “Puncak Gunung Es” kini menjadi pusat perhatian dunia internasional, membuka kembali perdebatan mengenai akuntabilitas militer Israel dan penegakan hukum internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza.

file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2