Denny Siregar Kritik Proyek MBG, Yayasan Dekat Prabowo Terlibat

Nasional423 Dilihat

jatenggayengnews.com – Kecurigaan terhadap keterlibatan yayasan yang mendukung Presiden Prabowo Subianto dalam pengelolaan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Data yang diperoleh menunjukkan beberapa yayasan yang terkait dalam pelaksanaan program ini memiliki hubungan erat dengan relawan dan tim sukses Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024.

Dana yang dialokasikan untuk pembangunan dapur MBG, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), disebut-sebut telah digunakan oleh yayasan-yayasan tersebut, sehingga menimbulkan keraguan soal transparansi dan pemerataan pelaksanaan program.

Salah satu yayasan yang menjadi fokus perhatian adalah Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), yang berdiri atas prakarsa langsung Prabowo Subianto. Dalam dokumen pendirian resmi, Prabowo tercatat sebagai pendiri yayasan tersebut. Bahkan, salah satu pengurus GSN kini menjabat sebagai pejabat di Badan Gizi Nasional.

BACA JUGA  Petembak Muda Tri Dharma, Raih Prestasi Pada Kejuaraan Menembak Tingkat Nasional Kategori Team Trap Man Shotgun Jarak 100 Meter

Menanggapi hal ini, sutradara film Sayap-sayap Patah, Denny Siregar, memberikan komentarnya melalui akun Threads @Dennysiregar pada Minggu, 28 September 2025. Denny menyindir keberlanjutan dana MBG yang mencapai ratusan triliun rupiah. “Ooh pantes MBG dengan dana ratusan triliun itu tetap dipertahankan,” tulisnya.

Denny juga mengkritik pernyataan Presiden Prabowo yang seolah menyalahkan siswa yang mengalami keracunan akibat makanan MBG. Ia mengatakan, “Sedih banget jadi rakyat di Indonesia. Dia yang keracunan, dia juga yang disalahin pemerintah.”

BACA JUGA  Bupati Blora Gelar Deklarasi Pilkades di Pendopo Rumah Dinas

Sebelumnya, Prabowo Subianto menyatakan bahwa proses pengolahan makanan di dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah sesuai dengan standar higienitas. Menurutnya, petugas dapur dilengkapi alat pelindung diri (APD) dan menjalankan prosedur kebersihan secara ketat.

Prabowo menambahkan bahwa faktor budaya dan kebiasaan masyarakat di beberapa daerah turut mempengaruhi kasus keracunan tersebut. Ia memberi contoh, sebagian anak tidak terbiasa menggunakan sendok saat makan, sehingga berpotensi menyebabkan risiko kesehatan. “Yang mau pakai sendok ada 20, yang enggak mau pakai sendok 10. Ya, tidak salah, dia terbiasa makan tidak pakai sendok,” ujar Prabowo.

BACA JUGA  Dandim 1416/Muna Silaturahim Ke Kantor Unit Bandara Kelas III Sugimanuru

Presiden juga menyoroti kebiasaan mencuci tangan yang belum menjadi budaya di kalangan siswa, padahal tindakan sederhana ini dapat mencegah keracunan. “Kita mendidik dia, kita mengajarkan dia cuci tangan. Jadi, bisa saja, (penyebab) keracunan adalah hal-hal seperti itu, hal-hal sepele tapi mendasar,” jelas Prabowo.