MEDAN || jatenggayengnews.com – Sabtu malam (19/4/2025) yang seharusnya tenang berubah menjadi tragedi bagi keluarga Dimas Prasetyo, seorang remaja 14 tahun yang masih duduk di bangku SMP di Medan Belawan. Dimas tewas setelah tertancap anak panah beracun saat menyaksikan tawuran antarwarga di kawasan Gudang Arang, Kelurahan Belawan I, sekitar pukul 21.00 WIB.
Bentrokan yang melibatkan dua kelompok warga, yaitu dari Gudang Arang dan gabungan Lorong Papan serta Kampung Kolam, berlangsung sengit. Kekerasan yang semakin brutal ditandai dengan penggunaan senjata rakitan, termasuk anak panah beracun, yang kini menjadi simbol kekerasan jalanan di daerah padat penduduk ini.
Rasa Penasaran yang Membawa Petaka
Meski banyak warga yang berlindung, Dimas yang berada tak jauh dari lokasi tawuran justru mendekat ke keributan. Mungkin karena rasa penasaran atau tidak menyangka akan terlibat, Dimas melangkah ke arah tawuran. Dalam hitungan detik, sebuah anak panah yang dilepaskan dalam kekacauan tersebut menghujam dadanya, mengirimkan racun mematikan ke tubuhnya. Meskipun segera dilarikan ke rumah sakit, Dimas akhirnya meninggal dunia beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 23.00 WIB.
Keprihatinan dan Seruan Keadilan
Dimas, yang merupakan anak dari Susilawati, Ketua Muhajirah Forum Umat Islam (FUI) Sumut, meninggal bukan karena penyakit atau kecelakaan, tetapi karena kekerasan yang dibiarkan begitu saja. Ustaz Nursarianto, Ketua DPD FUI Kota Medan, dengan tegas meminta pihak kepolisian untuk bertindak cepat dan menangkap semua pelaku tawuran.
“Ini anak yatim, bukan musuh perang. Dia hanya menyaksikan, tak terlibat, tapi dia tewas dengan cara biadab,” kata Ustaz Nursarianto, menyerukan keadilan.
Polisi Buru Pelaku, Warga Masih Khawatir
Sampai Minggu pagi (20/4), aparat kepolisian masih berjaga di sekitar lokasi, meski ketegangan tetap terasa. Para pelaku yang terlibat dalam aksi brutal ini masih bebas berkeliaran. Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Oloan Siahaan, menjelaskan bahwa pihaknya sedang memburu pelaku pembunuhan Dimas.
“Kami tidak akan berhenti sampai pelaku tertangkap. Ini tragedi serius,” ujar AKBP Oloan.
Fenomena Sosial yang Meningkatkan Kekhawatiran
Kematian Dimas menunjukkan bahwa tawuran bukan lagi sekadar pertikaian antarremaja, melainkan fenomena sosial yang mematikan, dengan senjata-senjata berbahaya yang kini digunakan. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar: berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum tindakan tegas diambil oleh aparat, masyarakat, dan pemerintah?






