Demak||jatenggayengnews.com – Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian PUPR saat ini tengah membangun Jalan Tol Semarang-Demak dengan panjang total 26,95 km. Proyek ini terdiri dari dua seksi, yaitu Seksi 1 Kaligawe-Sayung sepanjang 10,64 km yang dibangun di atas laut dan Seksi 2 Sayung-Demak sepanjang 16,31 km yang berada di daratan dan telah beroperasi sejak Februari 2023.
Keunikan proyek ini terletak pada penggunaan matras bambu sebagai material konstruksi untuk mendukung pembangunan jalan tol sekaligus tanggul laut. Teknologi ini merupakan inovasi pertama di Indonesia. Matras bambu dipadukan dengan cerucuk bambu dan Prefabricated Vertical Drain (PVD) untuk meningkatkan daya dukung tanah lunak.
Uji Keandalan Matras Bambu
Untuk memastikan keandalan material bambu, dilakukan uji tarik dan uji lentur oleh Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan. Pengujian ini memastikan bahwa bambu memiliki kekuatan yang cukup untuk digunakan dalam konstruksi besar seperti jalan tol.
Manfaat penggunaan matras dan cerucuk bambu meliputi:
- Mengurangi penurunan tanah: Mendistribusikan beban secara merata, sehingga menghindari penurunan tidak merata.
- Stabilitas timbunan: Membantu menjaga keseimbangan tanah lunak di lokasi konstruksi.
- Efisiensi biaya: Menghemat 30-40% biaya dibandingkan metode lain seperti vibro stone column dan deep soil mixing.
- Daya apung dan dukungan tambahan: Matras bambu memberikan daya apung, sementara cerucuk bambu meningkatkan daya dukung lekat pada tanah.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Proyek ini telah menggunakan hampir 6 juta batang bambu, yang didatangkan dari daerah sekitar lokasi proyek. Hal ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
Harapan dan Tantangan
Direktur Jenderal Bina Marga, Rachman Arief Dienaputra, menyampaikan bahwa pembangunan jalan tol ini diharapkan mampu mengatasi masalah banjir rob yang sering terjadi di Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Meski saat ini proyek menyebabkan kemacetan di area pembangunan, penyelesaiannya diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir dan meningkatkan konektivitas wilayah.
Proyek ini sekaligus menjadi bukti bahwa bambu, yang selama ini dianggap material tradisional, dapat digunakan dalam proyek infrastruktur modern dengan efisiensi biaya dan manfaat lingkungan yang tinggi.






