Blora Siap Kuasai Pintu Timur Jateng: Pasar Plaza Cepu Disulap Jadi Benteng Distribusi Pangan & Beras Organik

JAKARTA || jatenggayengnews.com — Pemkab Blora ingin menjadikan Pasar Plaza Cepu sebagai penggerak baru ekonomi kawasan timur Jawa Tengah. Berada di jalur strategis pintu masuk Jawa Tengah dari arah timur, pasar itu diproyeksikan tidak hanya menjadi pusat transaksi masyarakat, tetapi juga simpul distribusi komoditas pangan dan produk unggulan Blora, termasuk beras organik.

Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman hadir didampingi Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, serta Kepala Dinas Perumahan, Permukiman dan Perhubungan. Rombongan diterima langsung oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan, M.Si., dan Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Sri Sugy Atmanto, S.E., M.M., di Gedung Kementerian Perdagangan RI.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Arief Rohman menyampaikan keinginan Pemerintah Kabupaten Blora untuk merevitalisasi Pasar Lama Cepu yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pasar Plaza Cepu. Menurutnya, pasar tersebut memiliki nilai strategis karena berada di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepat di salah satu pintu masuk Jawa Tengah dari arah timur. Posisi itu menjadikan Pasar Plaza Cepu berpotensi menjadi simpul perdagangan antarwilayah sekaligus pusat distribusi berbagai komoditas unggulan dari Blora dan daerah sekitarnya.

“Lokasinya sangat strategis karena berada di pintu masuk Jawa Tengah dari arah timur. Dengan posisi tersebut, Pasar Plaza Cepu memiliki peluang besar menjadi pusat transaksi perdagangan dan pergerakan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

BACA JUGA  Polres Grobogan Gelar Latihan Menembak di Lapangan Sanika Satyawada

Menurut Bupati Arief, kebutuhan revitalisasi Pasar Plaza Cepu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blora yang mencapai sekitar 5,4 persen. Pertumbuhan tersebut, kata dia, terutama ditopang oleh sektor pangan dan energi yang memiliki peran penting dalam struktur perekonomian daerah.

Karena itu, penguatan infrastruktur perdagangan dinilai penting agar pertumbuhan sektor pangan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi berlanjut pada perluasan pasar, distribusi, transaksi, dan peningkatan nilai tambah bagi masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi Blora saat ini sebagian besar ditopang sektor pangan dan energi. Karena itu kami ingin membangun kembali Pasar Plaza Cepu agar menjadi pusat perdagangan yang lebih representatif dan mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya membahas pembangunan pasar, Bupati Arief juga memaparkan arah pembangunan ekonomi Blora yang kini semakin fokus pada pengembangan pertanian organik. Pemerintah Kabupaten Blora bahkan tengah menyusun peraturan daerah tentang pertanian organik untuk memberikan kepastian dan kenyamanan bagi para petani dalam mengembangkan usaha mereka.

Dalam kesempatan itu, Bupati Arief menyerahkan contoh beras organik dari Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, yang sejak 2017 mendapatkan pendampingan dari Pertamina. Beras organik tersebut menjadi salah satu produk unggulan yang saat ini terus dikembangkan Pemkab Blora.

Pengembangan pertanian organik di Blora tidak hanya dilakukan oleh kelompok tani, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai organisasi masyarakat. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Muhammadiyah, hingga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) turut mengembangkan budidaya pertanian organik di sejumlah wilayah.

BACA JUGA  Sambutan Gubernur pada Pembangunan Terminal dan Reaktivasi Stasiun Purworejo

Bupati Arief juga mengungkapkan bahwa Pemkab Blora telah menjalin kerja sama dengan ID FOOD untuk memperluas pemasaran beras organik. Dalam kerja sama tersebut, ID FOOD menyatakan siap menyerap hingga 2.000 ton beras organik Blora setiap tahun.

“Permintaan pasar sudah ada. ID FOOD siap menampung 2.000 ton per tahun, tetapi saat ini produksi kami baru sekitar 1.000 ton. Ini menjadi peluang besar yang terus kami dorong,” katanya.

Selain beras organik, Bupati Arief memperkenalkan potensi peternakan Blora yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan populasi sapi potong terbesar di Jawa Tengah. Aktivitas perdagangan ternak di daerah itu juga dinilai sangat tinggi.

“Pasar hewan di Blora buka setiap pasaran Pon atau lima hari sekali. Nilai transaksi dalam satu kali pasaran mencapai Rp3,5 miliar,” ujarnya.

Mendengar paparan tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal Shoffan Shofwan menyatakan akan membantu mengupayakan dan memperjuangkan usulan revitalisasi Pasar Plaza Cepu agar dapat memperoleh dukungan dari pemerintah pusat.

Menurut Iqbal, keberadaan pasar rakyat yang modern dan representatif memiliki peran penting dalam memperkuat rantai distribusi perdagangan sekaligus mendukung pemasaran komoditas unggulan daerah.

Selain itu, Dirjen Iqbal juga mendorong Pemerintah Kabupaten Blora untuk mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan setiap Oktober. Menurutnya, ajang tersebut dapat menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan produk unggulan Blora ke pasar nasional maupun internasional.

BACA JUGA  Nahas!! Kebakaran Hebat Lumat Rumah di Dusun Karanglo, Kerugian Capai Puluhan Juta

Ia menilai beras organik Blora memiliki potensi besar untuk dipromosikan lebih luas, seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Sri Sugy Atmanto menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Blora segera menyusun profil seluruh pasar yang ada di wilayahnya dan menginput data tersebut ke dalam Sistem Informasi Sarana Perdagangan (SISP).

Menurut Sri Sugy, pendataan yang lengkap akan menjadi dasar penting bagi pemerintah pusat dalam memetakan kebutuhan sarana perdagangan dan menentukan prioritas program revitalisasi pasar di daerah.

Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi Pemkab Blora untuk tidak hanya memperjuangkan pembangunan kembali Pasar Plaza Cepu, tetapi juga memperkuat posisi daerah sebagai sentra pangan organik yang memiliki peluang besar menembus pasar nasional hingga ekspor. Dengan dukungan infrastruktur perdagangan yang memadai dan perluasan akses pasar, beras organik Blora diharapkan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah pada masa mendatang. ***

Gambar 3
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2