Semarang||Jatenggayengnews.com – Pesatnya perkembangan kawasan industri di Jawa Tengah berdampak langsung pada meningkatnya permintaan rumah subsidi, terutama dari kalangan pekerja pabrik.
Ketua DPD Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah, Sugiyatno, mengungkapkan sekitar 80 hingga 85 persen pembeli rumah subsidi di wilayah tersebut merupakan karyawan sektor industri.
Menurutnya, kebutuhan hunian diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya investasi dan berdirinya pabrik-pabrik baru, khususnya di kawasan industri Kendal.
“Di Kawasan Industri Kendal saja sudah terdapat sekitar 60 hingga 70 pabrik yang sebagian besar merupakan industri padat karya. Kebutuhan rumah subsidi di Kendal saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 unit, dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena banyak tenaga kerja baru yang membutuhkan tempat tinggal,” ujar Sugiyatno.
Di sisi lain, pengembang menghadapi tantangan dalam memenuhi tingginya permintaan tersebut. Ketersediaan lahan di sekitar kawasan industri semakin terbatas akibat penerapan kebijakan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dan Lahan Baku Sawah (LBS), yang membatasi alih fungsi lahan untuk pembangunan perumahan maupun industri.
Sugiyatno berharap pemerintah segera menetapkan secara pasti lokasi-lokasi yang masuk kategori LSD agar proses perizinan pembangunan perumahan memiliki kepastian hukum dan tidak menghambat penyediaan rumah bagi masyarakat.
Sementara itu, tingginya minat investor membangun pabrik di Jawa Tengah juga didorong oleh harga lahan industri yang masih kompetitif. Dibandingkan Jakarta dan Surabaya, harga lahan industri di Semarang masih relatif lebih terjangkau, meski mengalami kenaikan sekitar 8 persen per tahun.
Saat ini, kawasan industri yang paling berkembang berada di Kota Semarang, meliputi Kawasan Industri Wijaya Kusuma, Kawasan Industri Candi, dan BSB Industrial Park. Selain Semarang, Kendal, Batang, dan Demak juga menjadi daerah yang terus menarik investasi sektor industri.






