JAKARTA|| Jatenggayengnews.com – Ketua Tim Investigasi UBK, Eko Suryo S, mengungkap dugaan adanya upaya untuk memengaruhi jalannya aksi unjuk rasa mahasiswa melalui tawaran uang kepada salah satu koordinator aksi, Abdi. Meski disebut sempat menerima dana sebesar Rp20 juta, Abdi menegaskan bahwa aksi demonstrasi tetap dilaksanakan sesuai rencana.
Menurut Eko, dugaan tawaran tersebut terjadi pada Minggu, 14 Juni 2026, atau sehari sebelum aksi berlangsung. Ia menyebut terdapat dua kali tawaran dengan nominal berbeda, yakni Rp50 juta dan Rp70 juta.
“Jadi sebelumnya ada dua tawaran, Rp50 juta dan Rp70 juta. Dalam dua kali tawaran itu, aparat yang menemui Abdi beda orang,” ujar Eko pada Jumat (26/6/2026).
Eko mengatakan, meski menolak dua tawaran bernilai besar itu, Abdi kemudian mengakui menerima uang sebesar Rp20 juta. Namun, menurutnya, penerimaan uang tersebut tidak disertai kesediaan memenuhi permintaan untuk memindahkan lokasi aksi dari depan Istana Kepresidenan.
“Yang kami tangkap, dia seperti mengerjai mereka. Uangnya diterima, tetapi tidak menuruti perintah untuk menggeser lokasi demo,” jelas Eko.
Ia menambahkan, uang tersebut diterima Abdi setelah pertemuan di sebuah kafe kawasan Cikini. Keesokan harinya, dana itu disebut dibagikan kepada sejumlah pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang terlibat dalam pelaksanaan aksi.
Saat dikonfirmasi, Abdi membenarkan telah menerima dana tersebut. Namun ia menegaskan bahwa uang itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan teknis selama pelaksanaan demonstrasi, bukan sebagai imbalan untuk membatalkan atau mengubah agenda aksi.
“Sebagian dana yang kemudian diberikan kepada saya digunakan semata-mata untuk kebutuhan teknis aksi,” kata Abdi.
Abdi juga menegaskan bahwa penerimaan uang tersebut tidak mengubah sikap maupun komitmennya untuk tetap menggelar demonstrasi sesuai rencana. Ia menolak anggapan bahwa gerakan mahasiswa dapat diperjualbelikan atau dijadikan komoditas politik.
“Melainkan agar publik dan kawan-kawan mahasiswa dapat melihat persoalan secara utuh, bahwa gerakan mahasiswa tidak bisa dibeli dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak aparat terkait tudingan adanya dugaan pemberian uang kepada koordinator aksi. Redaksi masih berupaya mengonfirmasi keterangan tersebut kepada pihak-pihak yang disebut dalam pernyataan Eko maupun Abdi.






