JEPARA || jatenggayengnews.com — Desa Dongos, Kecamatan Kedung, kembali menggelar tradisi Sedekah Bumi 2026 sebagai wujud syukur atas hasil bumi sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur.
Kegiatan yang berlangsung sejak Minggu (10/5/2026) hingga Rabu (13/5/2026) tersebut memadukan unsur sosial, religi, dan budaya lokal yang masih kuat dijaga masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan senam sehat bersama dan aksi donor darah yang disambut antusias warga. Suasana semakin meriah dengan hiburan orgen tunggal yang mengundang masyarakat memadati lokasi kegiatan sejak pagi hari.
Pada Selasa (12/5/2026), digelar acara Among Tamu yang dihadiri jajaran Forkopincam Kedung, perwakilan instansi pemerintah, lembaga pendidikan, yayasan, hingga aparatur desa sekitar.
Kemeriahan acara turut diwarnai hiburan orkes dangdut yang menjadi tontonan warga setempat.
Memasuki malam hari, suasana berubah khidmat melalui pelaksanaan istighosah dan doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan serta keberkahan bagi seluruh masyarakat desa.
Puncak ritual berlangsung pada Rabu pagi melalui tradisi Nyadran atau doa bersama di makam leluhur. Sebagai penutup, masyarakat menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk bersama Ashari dari Balong, Jepara.
Petinggi Desa Dongos, Abdul Khamid, menegaskan pagelaran wayang kulit menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi Sedekah Bumi.
“Keberadaan budaya pagelaran Wayang Kulit sangat kita perlukan, sebab di dalamnya mengajarkan banyak hal tentang filosofi kehidupan. Melalui tradisi ini, kami berharap umat manusia dapat bersinergi dengan alam, menciptakan rasa aman, sejahtera, serta dijauhkan dari marabahaya dan wabah penyakit,” ujarnya.
Sejumlah tokoh masyarakat juga mengapresiasi konsistensi warga Desa Dongos dalam menjaga warisan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Menurut mereka, tradisi Sedekah Bumi tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga dan menjaga nilai gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat.
“Tradisi ini adalah modal sosial yang besar. Ketika warga berkumpul untuk doa dan menonton wayang, di situ terjadi dialog antar generasi yang menjaga nilai-nilai kegotongroyongan tetap hidup,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Hingga kegiatan berlangsung, pertunjukan wayang kulit masih dipadati penonton dari berbagai kalangan, menandakan seni tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat modern.






