Nasional || Jatenggayengnews.com-Pemerintah Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinan global dalam aksi iklim dengan meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RENAKSI) Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru 2025–2030. Kebijakan strategis ini menjadi pijakan penting dalam menjaga sekaligus mengoptimalkan potensi karbon biru nasional yang mencapai 17 persen cadangan dunia.
Indonesia memiliki kekuatan besar dalam ekosistem pesisir, dengan sekitar 3,45 juta hektare mangrove dan 660 ribu hektare lamun. Dua ekosistem ini dikenal sebagai penyerap karbon alami paling efektif, bahkan mampu menyimpan karbon lebih tinggi dibandingkan hutan daratan.
Penyusunan RENAKSI difasilitasi oleh National Blue Carbon Action Partnership (NBCAP), sebuah wadah kolaborasi multipihak yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat tata kelola karbon biru secara inklusif dan terintegrasi.
Dalam kemitraan tersebut, Konservasi Indonesia berperan sebagai Sekretariat yang memastikan koordinasi berjalan efektif lintas sektor.
Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Dr. Nani Hendiarti, menegaskan bahwa dokumen RENAKSI menjadi panduan nasional yang menyatukan strategi implementasi dengan skema pendanaan inklusif berbasis prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).
“Dokumen ini menjadi acuan nasional yang menyinergikan strategi implementasi dengan instrumen pendanaan inklusif. Komitmen konkret akan dipaparkan dalam Ocean Impact Summit 2026 di Bali dan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor untuk mempertajam 21 rencana aksi menjadi program prioritas yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Peluncuran RENAKSI juga mendapat dukungan internasional. Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menyatakan komitmennya mendukung implementasi RENAKSI 2025–2030 sebagai bagian dari penguatan kemitraan iklim antara Indonesia dan Inggris.
Pemerintah Inggris menilai kepemimpinan Indonesia dalam melindungi 17 persen cadangan karbon biru dunia sangat strategis untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) dan agenda FOLU Net Sink 2030.
Sementara itu, World Economic Forum (WEF) memberikan apresiasi atas langkah progresif Indonesia. WEF menilai Ocean Impact Summit di Bali sebagai momentum penting untuk mendorong investasi hijau dan mempercepat pengembangan ekonomi biru berbasis keberlanjutan.
Menurut WEF, RENAKSI 2025–2030 mencerminkan visi besar Indonesia dalam menjadikan laut sebagai masa depan pembangunan nasional.
Dengan peluncuran RENAKSI ini, Indonesia tidak hanya menjaga ekosistem pesisir dari degradasi, tetapi juga mempertegas perannya sebagai pemimpin global dalam solusi berbasis alam (nature-based solutions).***






