Jatenggayengnews.com-Eko Pratomo Suyatno, mungkin tidak banyak orang yang mengenal nama ini, namun bagi dunia investasi di Indonesia, ia adalah salah satu tokoh besar. Sebagai pemimpin perusahaan reksadana terbesar dan seorang miliarder, Eko Pratomo Suyatno tidak hanya dikenal karena kesuksesannya di dunia bisnis, tetapi juga karena kisah hidupnya yang penuh keteladanan, kesetiaan, dan pengorbanan.
Kini berusia 60 tahun, Pak Eko tetap menjalani rutinitas yang menginspirasi meski sudah banyak pencapaian yang diraih. Ia tidak hanya seorang pebisnis sukses, tetapi juga seorang suami yang setia merawat istrinya, yang telah menderita sakit sejak melahirkan anak keempat mereka. Keadaan ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun.
Kisahnya dimulai setelah istrinya tiba-tiba mengalami kelumpuhan usai melahirkan anak keempat mereka. Tak hanya kakinya yang tidak bisa digerakkan, tubuhnya pun mulai melemah hingga tak dapat merespons apapun, termasuk tidak bisa berbicara lagi. Pada saat yang sama, Pak Eko dihadapkan pada dua pilihan: mengabaikan tanggung jawabnya sebagai suami atau merawat istrinya dengan sepenuh hati.
Tanpa ragu, Pak Eko memilih untuk merawat istrinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, ia memandikan istrinya, membersihkan tubuhnya, menyuapinya, dan mengangkatnya ke tempat tidur. Ia juga membawa istrinya ke ruang tamu untuk menonton TV bersama agar tidak merasa kesepian. Seharian bekerja, ia selalu kembali untuk memberi makan siang kepada istrinya, melanjutkan dengan merawatnya kembali di sore hari, dan menemani istrinya menonton televisi di malam hari. Meskipun istrinya hanya bisa menanggapi dengan tatapan mata, baginya itu sudah cukup memberikan kebahagiaan.
Rutinitas ini dilakoninya dengan penuh cinta selama lebih dari dua dekade, tanpa keluhan. Bersama istrinya, mereka membesarkan empat anak yang kini telah dewasa, dengan sang bungsu masih kuliah. Anak-anak mereka, meski sudah menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing, selalu merasa bangga dengan keteladanan ayah mereka. Namun, suatu hari mereka berkumpul dan mengungkapkan keinginan mereka untuk merawat ibu mereka, setelah melihat ayah mereka berkorban begitu besar tanpa meminta apapun.
“Saya ingin kalian berhasil, itu yang paling penting bagi saya,” ujar Pak Eko kepada anak-anaknya dengan penuh cinta. Ia juga menyampaikan bahwa meski anak-anaknya berusaha membujuknya untuk menikah lagi dan menikmati masa tuanya, bagi Pak Eko, tidak ada yang lebih berharga daripada berada di sisi istrinya. “Jika pernikahan hanya untuk nafsu, mungkin saya akan menikah lagi. Tapi yang saya inginkan adalah merawat ibu kalian yang telah melahirkan kalian semua.”
Anak-anaknya yang mendengar kalimat ini, tidak bisa menahan tangisan mereka. Mereka menyaksikan ibu mereka, meski dalam kondisi tak berdaya, menatap suaminya dengan penuh cinta dan kesetiaan.
Pak Eko juga bercerita saat menjadi narasumber di sebuah stasiun TV swasta. Ia ditanya bagaimana ia bisa bertahan merawat istrinya yang tak bisa melakukan apa-apa selama 25 tahun. Dengan suara terbata-bata, Pak Eko mengungkapkan bahwa bagi dirinya, pernikahan bukan hanya soal kebahagiaan pribadi, tetapi juga soal memberi waktu, tenaga, dan perhatian tanpa mengharapkan balasan. “Jika manusia menganggap cinta itu hanya soal kebahagiaan pribadi, maka itu semua sia-sia,” kata Pak Eko, sambil menahan air mata.
Ia mengingat kembali saat istrinya dengan sabar merawatnya ketika mereka muda dan sehat. Kini, saat istrinya sakit, ia merasa itu adalah ujian cintanya, untuk membuktikan komitmennya dalam mencintai istrinya apa adanya. “Saya percaya pada Allah. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada-Nya.”
Kisah Pak Eko Pratomo Suyatno ini mengajarkan kita banyak hal tentang cinta, kesabaran, dan komitmen dalam pernikahan. Di tengah kesuksesan yang diraih di dunia bisnis, ia tetap memilih untuk memberi perhatian penuh kepada keluarganya, terutama istrinya yang telah setia menemaninya. Keteladanan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang apa yang kita terima, tetapi apa yang kita berikan.






