Bojonegoro||Jatengga– 26 Desember 2024 – Lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang terletak di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kini telah beroperasi penuh dengan kapasitas produksi mencapai 125 MMSCFD. Gas yang dihasilkan dari lapangan ini disuplai ke beberapa pihak pembeli utama, antara lain PLN, Petrokimia Gresik (PKG), dan Jargas Lamongan (PGN).
Proyek JTB ini telah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, Rudy Satwiko. Dalam kunjungannya ke wilayah kerja PT Pertamina EP Cepu Jambaran Tiung Biru (PEPC JTB) pada Senin, 23 Desember 2024, Rudy menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini patut dibanggakan, mengingat seluruh desain dan pembangunan JTB sepenuhnya dilakukan oleh tenaga kerja dan vendor lokal Indonesia. Proyek ini juga menjadi gas plant terbesar yang dioperasikan oleh perusahaan lokal.
Tulang Punggung Gas di Jawa
Rudy Satwiko menyoroti peran penting JTB ke depan dalam mendukung kebutuhan gas di wilayah Jawa. “JTB akan menjadi backbone atau tulang punggung pasokan gas di Jawa. Saat ini, suplai gas utama di wilayah ini masih bergantung pada Gresik, dan jika tidak ada tambahan pasokan, bisa terjadi kekurangan gas di Jakarta pada 2026,” jelas Rudy. Dengan hadirnya Lapangan Gas JTB, yang terhubung melalui pipa gas Cisem (Cirebon-Semarang), kebutuhan gas di wilayah ini dapat terpenuhi dengan lebih stabil.
Pengembangan dan Kinerja Operasional
Lapangan Gas JTB adalah bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikembangkan oleh Pertamina EP Cepu. Setelah berhasil melakukan Gas On Stream (GoS) pada September 2022, JTB saat ini menghasilkan gas dan kondensat dengan produksi rata-rata 315 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan volume penjualan terkontrak sebesar 187 MMSCFD. Potensi penambahan penjualan gas di lapangan ini juga cukup besar, mencapai 5 MMSCFD.
Produksi gas dari JTB diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah, seiring dengan pembangunan pipa gas Cirebon-Semarang (Cisem). Kehadiran proyek ini semakin penting, mengingat gas merupakan sumber energi fosil yang paling bersih, sejalan dengan transisi energi menuju sumber daya yang lebih ramah lingkungan.
Komitmen Terhadap Ketahanan Energi Nasional
Direktur SDM & Penunjang Bisnis PHE, Whisnu Bahriansyah, menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung operasional Subholding Upstream Pertamina dalam proyek ini. “Kunjungan ini menunjukkan perhatian besar dari SKK Migas terhadap kinerja kami. Kami merasa terhormat dipilih sebagai lokasi kegiatan akhir tahun ini,” ujar Whisnu.
Sebagai anak perusahaan dari PHE, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) berkomitmen untuk menjaga kinerja operasionalnya agar selalu optimal, mendukung ketahanan energi nasional, dan berperan dalam menciptakan swasembada energi. Muhamad Arifin, Direktur Utama PEPC, menyatakan bahwa saat pipa gas Cisem mulai beroperasi penuh, JTB diharapkan dapat mencapai kapasitas penuh 190 MMSCFD.
Keberhasilan proyek ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara SKK Migas, PHE, dan PEPC JTB telah berjalan dengan baik, dan mendukung visi besar pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi yang berkelanjutan bagi Indonesia.






