JATENGGAYENGNEWS.com-Sang turis ‘Israel’, mengenakan topi kippah yang khas, bersama keluarganya mencoba menikmati suasana di Railway Tuan Cafe, salah satu sudut Kota Hanoi, Vietnam.
Di dinding kafe ada tulisan “Free Palestine”. Suasana hangat tetiba terganggu ketika sang pemilik kafe, dengan kaos putihnya, dengan tegas menegur mereka.
“Restoran kami tidak menerima tamu dari negara Anda,” tegasnya, sambil menambahkan kata-kata, “Restoran kami hanya menerima manusia, kucing, dan anjing.”
Si Yahudi Tidak Mau Mengalah
Tanggapan ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga menimbulkan reaksi tajam dari sang turis. Dia tidak hanya menolak untuk mengalah, tetapi juga mengabadikan momen tersebut melalui kameranya, dengan jelas menunjukkan nama kafe di latar belakang.
Dalam pembelaannya, sang turis yang juga blogger menanyakan apakah dirinya masih dianggap sebagai manusia karena keyakinannya sebagai seorang Yahudi.
Suasana panas semakin memuncak ketika seorang wanita, diduga istri pemilik kafe, mengintervensi dengan meminta mereka pergi.
Playing Victim
Adegan ini mencuat di media sosial, videonya viral, memicu diskusi luas tentang toleransi, identitas, dan bagaimana perbedaan dapat memengaruhi interaksi sehari-hari di tempat-tempat umum.
Reaksi dari turis ‘Israel’ ini memperumit situasi. Dengan cepat, dia merespons dengan pertanyaan yang menantang, “Jadi, saya diusir karena saya Yahudi?”
Tanggapan ini, yang terdengar seperti upaya untuk memainkan kartu “victim,” membingungkan mereka yang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung.
Seorang influencer di Indonesia, Dina Sulaiman menlontarkan pendapatnya.
“Restoran di Vietnam mengusir turis asal ‘Israel’. Si turis langsung playing victim, ‘Oh kami diusir karena Yahudi ya?” Padahal jelas dari ucapan si pemilik resto, sikapnya terkait dengan pengeboman pada bayi-bayi di Gaza. Si turis terlihat tidak peduli pada kejahatan rezimnya,” kata Dina Sulaiman di X, melalui akun @dina_sulaiman pada Sabtu, 06 Juli 2024.
Apakah ini sekadar pukulan retoris atau sebuah refleksi dari ketidaktahuan yang terkesan?
Peristiwa di Hanoi menambah daftar insiden serupa di berbagai belahan dunia, termasuk kasus penolakan di hotel di Kyoto, Jepang, terhadap tamu yang negaranya terlibat dalam konflik internasional.
Meskipun kontroversial, sikap-sikap semacam ini sering kali memicu debat tentang batasan toleransi dan hak untuk diakui sebagai individu tanpa harus dipengaruhi oleh asal negara atau keyakinan politik.
Kisah ini bukan hanya tentang satu insiden di Hanoi, tetapi juga tentang bagaimana isu-isu global dapat memengaruhi interaksi lokal di sekitar kita.(Din/red)






