Wabup Bojonegoro Hadiri Kirab 7 Pusaka, Lestarikan Warisan Ki Andong Sari

BOJONEGORO || jatenggayengnews.com – Tradisi budaya dan spiritual warga Desa Ledok Kulon dan Ledok Wetan kembali hidup dalam peringatan Haul Ki Andong Sari ke-243 yang dirangkai dengan Kirab 7 Pusaka, Minggu, 20 Juli 2025. Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, yang datang bersama suaminya serta jajaran Forkopimcam dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Nurul Azizah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kirab tahunan tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukur karena bisa menjadi bagian dari pelestarian tradisi lokal masyarakat Ledok.

“Kami sangat bersyukur bisa turut hadir, serta dapat menjadi bagian dalam acara adat istiadat Tlatah Ledok. Semoga tradisi ini bisa berlangsung terus menerus,” ujar Nurul Azizah di hadapan warga.
(Sumber: Pemkab Bojonegoro, 2025)

Kirab ini menjadi simbol penghormatan terhadap Ki Andong Sari, tokoh penyebar Islam dan pejuang anti-kolonial yang hidup pada abad ke-18. Ia dikenal dengan nama asli Arya Mentahun, yang menetap di Desa Ledok setelah menikahi seorang perempuan setempat bernama Sari pada tahun 1742.

BACA JUGA  Hudallah Grobogan Juara Open Catur DPR Kudus HUT Bhayangkara 79

Iring-iringan kirab dimulai dengan pembawa tujuh pusaka peninggalan Ki Andong Sari, yaitu: Tumbak Gagak Cemani, Tumbak Godong Andong, Tongkat Galih Kelor, Tongkat Menjalin Bang dan Porong, Slempang Kebesaran, Rompi Onto Kusumo, dan Pedang Cekik serta Kentrung. Sebelum kirab dimulai, semua pusaka tersebut menjalani prosesi jamasan atau pembersihan yang dilaksanakan di makam Ki Andong Sari.

BACA JUGA  Wagub Jateng Titip Masalah Kemiskinan hingga Pernikahan Anak ke Lemhanas untuk Diintervensi

Warga tumpah ruah menyambut kirab meski cuaca cukup terik. Salah satu warga dari Desa Pancur, Kecamatan Temayang, mengaku antusias dan mengajak keluarganya untuk menyaksikan langsung prosesi budaya ini.

“Penasaran sih, seperti apa pusaka Ki Andong Sari, dan ternyata ada Wabup Nurul juga. Sekalian mengenalkan anak dengan tradisi Bojonegoro,” tutur Utomo kepada wartawan.
(Sumber: Warga, Mediabahri.com, 2025)

Acara kirab ini bukan hanya menjadi peristiwa sakral keagamaan dan sejarah, tetapi juga wadah untuk memperkuat identitas budaya lokal dan edukasi lintas generasi. Pemerintah daerah berharap tradisi ini tetap lestari dan diwariskan ke generasi penerus.

Gambar 1 Gambar 2