Yogyakarta || jatenggayengnews.com – Upaya menurunkan angka stunting tidak bisa hanya berhenti pada pemberian makanan bergizi. Di balik persoalan tumbuh kembang anak, terdapat tantangan yang lebih besar, yakni pemahaman keluarga tentang pola asuh, kesehatan, dan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Karena itu, edukasi yang lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat dinilai menjadi kunci dalam percepatan penanganan stunting.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, saat menerima silaturahmi Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN DIY, Rohina, di Gedhong Pareanom Kompleks Kepatihan, Senin (22/6). Pertemuan tersebut sekaligus membahas kesiapan DIY sebagai tuan rumah Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tingkat Nasional Tahun 2026.
Sri Paduka menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Harganas di DIY. Momentum Harganas dapat menjadi sarana untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga yang berkualitas, termasuk dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.
“Terkait stunting, penanganannya ternyata tidak cukup hanya pada ibu dan anak. Harus ada pendekatan yang lebih menyeluruh. Ke depan mungkin bisa disampaikan kepada Bapak Menteri agar pemahaman mengenai stunting lebih membumi di masyarakat,” ujar Sri Paduka.
Menurut Sri Paduka, selama ini penanganan stunting sering kali dipersepsikan sebatas pemberian makanan tambahan. Padahal, yang tidak kalah penting adalah membangun pemahaman keluarga bahwa masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas yang tidak bisa ditawar. Pada fase itulah fondasi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas sumber daya manusia masa depan dibentuk.






