GROBOGAN | Jatenggayengnews.com – Tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kedu di Desa Gribig berlangsung semarak dan penuh khidmat. Ribuan masyarakat memadati sepanjang rute kirab budaya yang digelar sebagai rangkaian peringatan tahunan untuk mengenang jasa dan perjuangan Kanjeng Sunan Kedu dalam menyebarkan agama Islam.
Sebanyak 18 elemen masyarakat turut ambil bagian dalam kirab budaya yang berlangsung meriah. Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari badan otonom Nahdlatul Ulama seperti Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, Gerakan Pemuda Ansor, perguruan pencak silat Setia Hati Terate (PSHT), jajaran Pemerintah Desa Gribig, hingga siswa-siswi Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak kirab dimulai. Warga Desa Gribig dan daerah sekitar memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan iring-iringan peserta. Banyak di antaranya mengabadikan momen dengan berfoto bersama rombongan kirab yang tampil mengenakan beragam busana tradisional dan atribut budaya.
Ketua Pengurus Makam Sunan Kedu, Muhtadi, mengatakan bahwa tradisi Buka Luwur bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada sosok ulama yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.
“Kegiatan kirab dan tradisi Buka Luwur ini merupakan upaya meneladani nilai-nilai perjuangan Kanjeng Sunan Kedu. Beliau adalah leluhur kami sekaligus ulama masyhur yang membawa dan menyiarkan agama Islam demi kemaslahatan umat,” ujar Muhtadi.
Kirab budaya tahun ini juga semakin semarak dengan penampilan sejumlah grup drum band serta empat kereta kuda yang membawa Kepala Desa Gribig, unsur Forkopimcam, Kapolsek, Danramil, serta jajaran pengurus Makam Kanjeng Sunan Kedu.
Setelah seluruh rombongan tiba di kompleks Pasarean Sunan Kedu, rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama, pembacaan tahlil, sholawat, dan munajat sebagai bentuk penghormatan sekaligus memohon keberkahan.
Suasana kebersamaan semakin terasa saat seluruh peserta mengikuti tradisi makan bersama di area makam. Berbeda dengan tradisi pada umumnya yang menggunakan piring, masyarakat menikmati hidangan menggunakan nampan besar yang disantap bersama oleh dua hingga empat orang.
Panitia menyediakan sekitar 600 nampan berisi nasi lengkap dengan lauk pauk yang dinikmati secara lesehan. Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Gribig dari generasi ke generasi.
Tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kedu tidak hanya menjadi agenda religi dan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik masyarakat untuk mengenang perjuangan ulama sekaligus melestarikan warisan budaya yang telah hidup selama puluhan tahun di Kabupaten Grobogan.






