JEPARA | Jatenggayengnews.com – Suasana khidmat sekaligus meriah mewarnai malam puncak peringatan Sedekah Bumi ke-5 dan Haul Sayyid Abu Bakar Al-Hadad atau yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Buyut Panggang ke-28 di Kelurahan Panggang, Kecamatan Jepara Kota, Kabupaten Jepara, Jumat (26/6/2026) malam.
Puncak peringatan tersebut dimeriahkan dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk yang sukses menyedot perhatian ratusan warga. Masyarakat dari berbagai kalangan memadati lokasi acara untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya Jawa.
Pada kesempatan itu, Ki Dalang Syarif Gondo Carito membawakan lakon “Dewa Ruci”, sebuah kisah pewayangan yang sarat akan nilai-nilai spiritual, kebijaksanaan, serta pencarian jati diri. Penampilan dalang yang memukau mendapat sambutan hangat dari para penonton yang bertahan hingga larut malam.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Jepara yang juga Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, Andang Wahyu Triyanto.
Dalam sambutannya, Andang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mencintai dan melestarikan seni budaya warisan leluhur. Menurutnya, wayang kulit bukan hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga media pendidikan karakter yang kaya akan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan.
“Wayang kulit merupakan warisan budaya yang memiliki makna sangat dalam. Di dalam setiap lakonnya terdapat pesan moral, nilai kebijaksanaan, dan tuntunan kehidupan yang patut diwariskan kepada generasi penerus. Karena itu, kita harus terus menjaga dan melestarikannya,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi masyarakat Kelurahan Panggang yang secara konsisten menyelenggarakan Sedekah Bumi dan Haul Mbah Buyut Panggang sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan para leluhur.
Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang mampu memperkuat identitas lokal Kabupaten Jepara.
Peringatan Sedekah Bumi dan Haul Mbah Buyut Panggang sendiri telah menjadi agenda budaya tahunan yang selalu dinantikan masyarakat. Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta melestarikan budaya adiluhung di tengah perkembangan zaman.
Gemuruh gamelan yang mengiringi pertunjukan wayang kulit hingga dini hari menjadi penutup rangkaian acara, sekaligus menegaskan bahwa tradisi budaya Jawa masih hidup dan mendapat tempat di hati masyarakat Jepara.
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg






