Rembang || Jatenggayengnews.com – Di balik gang kecil di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, terdapat sebuah warung makan sederhana yang selalu dipadati pembeli setiap kali buka. Warung tersebut dikenal masyarakat dengan nama Lontong Tahu Mbah Jayik, merujuk pada nama pemiliknya, Mbah Jayik.
Berbeda dengan warung makan pada umumnya, Lontong Tahu Mbah Jayik hanya beroperasi setiap Rabu dan Minggu, mulai pukul 15.00 WIB hingga sekitar 23.00 WIB. Meski waktu operasionalnya terbatas, warung ini justru menjadi salah satu tujuan kuliner favorit masyarakat, terutama kalangan anak muda.
Menu andalan yang paling banyak diburu pengunjung adalah lontong tahu dengan siraman bumbu kacang khas yang menjadi ciri utama warung tersebut. Selain itu, tersedia pula menu nasi pecel, lontong sayur, serta minuman es dawet dengan harga yang terjangkau.
Salah satu keunikan yang masih dipertahankan hingga kini adalah proses pengolahan makanan yang masih menggunakan kayu bakar. Mulai dari memasak lontong, merebus sayuran, hingga menggoreng aneka gorengan dilakukan dengan tungku tradisional. Menurut keluarga, cara memasak tersebut dipertahankan karena dinilai mampu menghasilkan cita rasa yang khas sekaligus menjaga resep warisan yang telah dikenal para pelanggan selama bertahun-tahun.
Warung yang berada di belakang SPPG Desa Tegaldowo ini mulai dipenuhi pembeli sejak sore hari. Kepadatan pengunjung biasanya meningkat setelah waktu Magrib hingga malam.
Dalam menjalankan usahanya, Mbah Jayik dibantu oleh istri, anak, dan menantunya. Masing-masing memiliki tugas, mulai dari menyiapkan makanan hingga melayani pelanggan, sementara Mbah Jayik sendiri bertugas menggoreng aneka gorengan yang menjadi pelengkap menu.
Saat ditemui pada Minggu (29/6/2026), Mbah Jayik mengungkapkan bahwa jumlah pembeli yang terus berdatangan membuat omzet warungnya dapat mencapai jutaan rupiah dalam satu hari operasional.
“Alhamdulillah, warung mulai buka jam tiga sore. Biasanya sudah banyak yang antre. Untuk lontong kami menyiapkan sekitar 40 sampai 50 kilogram. Gorengan juga bisa menghabiskan sekitar setengah karung tepung untuk adonan tempe dan piya-piya. Kalau omzet sekitar Rp4 juta, bahkan bisa lebih kalau sedang ramai sekali,” ujar Mbah Jayik.
Menurutnya, tingginya minat masyarakat membuat persiapan bahan baku harus dilakukan sejak pagi agar seluruh menu siap disajikan ketika warung mulai buka. Proses memasak dengan tungku kayu juga membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan menggunakan kompor gas, sehingga seluruh persiapan dilakukan secara bertahap agar kualitas rasa tetap terjaga.
Bagi masyarakat yang ingin mencicipi kuliner tersebut, lokasi warung dapat dijangkau melalui gang di depan Balai Desa Tegaldowo menuju arah utara, melewati depan SPPG Tegaldowo. Setelah melintasi jembatan kecil, pengunjung cukup berbelok ke kiri dan berjalan sekitar 20 meter hingga tiba di lokasi warung. Warung ini hanya buka setiap Rabu dan Minggu.
Selain cita rasa yang khas, harga menjadi salah satu daya tarik utama. Satu porsi lontong tahu maupun nasi pecel dibanderol Rp6.000, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Keberadaan Lontong Tahu Mbah Jayik menjadi bukti bahwa usaha kuliner tradisional tetap mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Berlokasi di tempat yang tersembunyi, mempertahankan teknik memasak dengan kayu bakar, serta menyajikan rasa yang konsisten dan harga yang terjangkau, warung sederhana ini terus menjadi destinasi kuliner favorit masyarakat di Kecamatan Gunem dan sekitarnya.






