Tom Lembong Sebut May Day Sinyal Darurat Ekonomi

Nasional36 Dilihat

JAKARTA || jatenggayengnews.com — Ekonom nasional Tom Lembong menilai peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 memiliki makna lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia menyebut momentum tersebut sebagai sinyal kondisi darurat yang tengah dihadapi pekerja di Indonesia.

Dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026), Tom menjelaskan bahwa istilah May Day juga dikenal sebagai kode darurat dalam dunia pelayaran dan penerbangan.
“May Day adalah Hari Buruh Dunia tapi juga standar kode atau panggilan untuk kondisi darurat – misalnya antar pelaut atau awak pesawat,” ujarnya.

Menurutnya, makna tersebut relevan dengan kondisi saat ini, di mana pekerja menghadapi tekanan berat akibat terbatasnya lapangan kerja dan menurunnya daya beli.
“Tahun ini yang rasanya tepat adalah memperingati makna ganda May Day: mengapresiasi buruh dan pekerja, dan sekaligus mengakui darurat lapangan kerja dan hantaman keras terhadap daya beli pekerja kita,” lanjutnya.

BACA JUGA  Polres Grobogan Hadiri Serah Terima Kades PAW di Grobogan

Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal itu juga menyoroti arah kebijakan ekonomi nasional yang dinilai belum optimal dalam menyerap tenaga kerja. Ia menekankan perlunya pergeseran kebijakan dari proyek padat modal ke sektor padat karya.

BACA JUGA  Kasad: Lakukan Penugasan dengan Baik, Maka Anda Jadi Orang Berhasil!

“Untuk Indonesia, solusinya tidak berubah sejak tiga tahun lalu: harus ada pergeseran kebijakan dari yang mengutamakan mega-proyek padat modal ke sektor yang lebih menyerap tenaga kerja,” tegasnya.

Selain itu, Tom mengingatkan adanya tantangan baru, yakni perlunya peralihan dari kebijakan populis menuju peningkatan produktivitas tenaga kerja, baik formal maupun informal.

BACA JUGA  Kebakaran Melanda Taman Bunga Celosia di Bandungan, Ini Penyebabnya

“Perlu pergeseran kebijakan dari program yang populis-konsumtif ke program yang langsung meningkatkan produktivitas pekerja dalam jangka pendek,” jelasnya.

Ia menilai kebijakan berbasis produktivitas akan memberikan dampak yang lebih berkelanjutan dibandingkan program konsumtif semata.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa peringatan May Day seharusnya menjadi momentum refleksi terhadap kondisi nyata pekerja Indonesia, khususnya dalam menghadapi tekanan ekonomi global dan domestik yang masih berlangsung.