PNIB Kecam Sweeping Pedagang Takjil

Tentang Kami90 Dilihat

Jatenggayengnews.com-Ramadan seharusnya menjadi bulan penuh keberkahan, bukan sekadar ritual ibadah, melainkan juga panggung peluang ekonomi bagi rakyat kecil.

Di setiap sudut kota, dari trotoar hingga pelataran masjid, para pedagang musiman hadir menjemput rezeki demi menyambung hidup. Namun sayangnya, geliat ekonomi rakyat ini sering kali harus berbenturan dengan kaku dan dinginnya aturan birokrasi.

Satpol PP, sebagai ujung tombak penertiban, kerap kali terlibat gesekan panas dengan rakyat sendiri yang hanya mencoba bertahan di tengah sulitnya ekonomi.

Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal.

Menanggapi maraknya perselisihan antara aparat dan pedagang kecil yang viral di berbagai daerah, Gus Wal menilai penegakan aturan saat ini telah kehilangan sisi kemanusiaannya.

Baginya, aturan memang harus ditegakkan, namun nurani tidak boleh dikesampingkan begitu saja.

“Ibu-ibu jualan di trotoar masjid secara aturan mungkin tidak boleh, berdagang takjil di depan rumah sendiri pun tak luput dari teguran petugas,” ujarnya.

BACA JUGA  Proses Persidangan Tidak Mepengarui Putusan Hakim PN Lubuk Pakam Yang Diduga Berpihak

 

“Bahkan pedagang ayam keliling dianggap mengganggu. Padahal, selama mereka tidak menghambat lalu lintas secara ekstrem, kenapa harus dilarang?”

“Toh ini tidak setiap hari, hanya sebulan sekali menjelang buka puasa. Ini menjadi fenomena sosial yang cukup mengganggu kekhusyukan ibadah kita,” ungkap Gus Wal dengan nada kecewa.

Gus Wal mengecam keras aksi tanpa toleransi yang sengaja diperlihatkan oleh petugas Satpol PP di bulan suci ini.

Ia mengingatkan aturan dibuat untuk menjaga ketertiban, namun aparat yang menjalankannya adalah manusia yang memiliki hati, bukan mesin tanpa perasaan.

“Penegakan hukum seharusnya dijalankan dengan kebijakan di lapangan, bukan sekadar pamer kekuasaan di hadapan rakyat yang sedang kesulitan,” kata dia.

 

Lebih jauh lagi, Gus Wal menyoroti pergeseran fenomena sosial yang ironis di bulan Ramadan tahun ini.

Ia mempertanyakan mengapa energi penertiban seolah berpindah sasaran. Jika dulu publik sering melihat aksi sweeping ormas terhadap rumah makan yang buka di siang hari, kini justru aparat pemerintah yang gencar melakukan sweeping terhadap pedagang musiman hingga memicu keributan.

BACA JUGA  Pemungutan Suara Pilkada 2024 Telah Usai, Polres Grobogan Gelar Analisa dan Evaluasi

“Kenapa aksi sweeping rumah makan sudah tidak terjadi, tapi malah diganti dengan sweeping pedagang musiman? Mengapa harus ada keributan di saat rakyat sedang mencoba bertahan hidup?” tanyanya retoris.

Menutup pernyataannya, Gus Wal melontarkan kritik pedas bagi para pembuat kebijakan yang seolah kehilangan skala prioritas.

Di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, kebijakan yang hanya tajam ke bawah dianggap sebagai bentuk ketidakadilan yang nyata.

Baginya, ada sebuah prioritas yang terbalik dalam cara pandang penguasa saat ini; di mana rakyat kecil yang berdagang hanya untuk menyambung nyawa justru ditekan, seolah-olah mereka adalah ancaman besar, padahal mereka hanya sedang berusaha bertahan hidup dan bukan untuk menumpuk kekayaan.

Ia menegaskan musuh sejati bangsa ini bukanlah emak-emak penjual gorengan atau pedagang takjil di trotoar.

“Bangsa ini tidak akan pernah runtuh hanya karena warganya berdagang di sembarang tempat demi sesuap nasi, namun Indonesia justru berada di ambang kehancuran jika para koruptor dibiarkan hidup tenang, dilindungi, dan tidak dimiskinkan,” tegas Gus Wal.

Oleh karena itu, Gus Wal memberikan pesan menohok bagi penguasa agar segera mengalihkan energi penertiban mereka.

BACA JUGA  Tanam 1.000 Bibit Pohon di Kawasan Waduk Logung Kudus

Alih-alih mengerahkan aparat untuk memburu rakyat kecil yang mencari rezeki halal di bulan suci, Negara seharusnya lebih galak dalam memburu para maling uang rakyat yang jelas-jelas merampok masa depan bangsa.

“Mari kita saling menahan diri untuk tidak berkonflik. Bangsa ini tidak akan hancur karena PKL, tapi akan bubar kalau koruptor dibiarkan. Merekalah musuh bangsa yang sesungguhnya!” pungkas Gus Wal.***

 

Gambar 1 Gambar 2