Hunian Sementara Jadi Simbol Ketangguhan Warga Lewotobi di Tengah Ancaman Erupsi

Nasional516 Dilihat

Foto : Hunian Sementara Jadi Simbol Ketangguhan Warga Lewotobi di Tengah Ancaman Erupsi

jatenggayengnews.com– Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki yang terus berubah memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Menanggapi situasi ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait membangun hunian sementara (huntara) lengkap dengan fasilitas dasar untuk menampung para penyintas di luar zona bahaya.

Di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, huntara bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga menjadi pusat kehidupan baru bagi warga yang terdampak. Masyarakat perlahan mulai membangun kembali kehidupan mereka: memasak, mencuci, berdagang, hingga beternak dan bercocok tanam secara mandiri.

Dalam beberapa unit hunian berderet, tampak aktivitas ekonomi kecil-kecilan mulai tumbuh. Warung makanan, bengkel, hingga penjualan air galon menjadi bagian dari ikhtiar penyintas membangun kembali keseharian mereka.

BACA JUGA  Danlanal Semarang Hadiri Bon Voyage dan Pelepasan Perwira Siswa Diklat Pelaut PIP Semarang

Rofina, warga dari Desa Boru, menuturkan bahwa akses terhadap air bersih dan listrik telah tersedia, dan bantuan logistik masih rutin diterima dari pemerintah maupun komunitas kemanusiaan.

“Kondisinya memang tidak ideal, tapi perlahan kami bangkit. Bantuan datang dari banyak pihak dan anak-anak kami juga tetap bisa belajar,” ujarnya.

Dalam upaya menjamin pendidikan anak-anak terdampak, pemerintah bersama sejumlah organisasi kemanusiaan seperti Save The Children, Komunitas Pahlawan Anak, Circle of Imagine Society Timor, dan lainnya, telah membangun sembilan Ruang Belajar Sementara. Sarana ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga membangkitkan harapan anak-anak di tengah keterbatasan.

Sampai saat ini, sebanyak 450 unit huntara telah dibangun dan dihuni oleh 450 kepala keluarga. BNPB kini tengah menyelesaikan pembangunan tahap III agar warga yang masih berada di pos darurat segera dapat dipindahkan ke tempat yang lebih layak.

BACA JUGA  Satgas YPR 330/Tri Dharma Cegah Meningkatnya Angka Stunting di Intan Jaya

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menyampaikan bahwa relokasi ke huntara adalah pilihan paling realistis saat ini, mengingat status Gunung Lewotobi Laki-Laki telah dinaikkan ke level IV (Awas).

“Masyarakat harus tetap dapat hidup normal, meskipun di tengah potensi ancaman. Yang penting berada di luar zona bahaya,” ujar Suharyanto.

Namun ia menekankan bahwa huntara hanyalah solusi sementara. Pemerintah tengah menyiapkan pembangunan hunian tetap (huntap) yang akan dimulai pekan depan di wilayah Noboleto, dengan target pembangunan 500 unit rumah. Proyek ini didukung oleh Kementerian PUPR, Kementerian Perumahan, TNI/Polri, dan masyarakat setempat.

BACA JUGA  Demi Jaga Keamanan Wilayah, Piket Koramil 03/Serengan Aktif Patroli Malam

Sementara itu, menurut Sulistiyani dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas gunung saat ini menunjukkan perbedaan dibandingkan erupsi sebelumnya pada November 2024, baik dari sisi kegempaan maupun karakter letusan.

“Situasinya sangat dinamis dan sulit diprediksi, oleh karena itu masyarakat harus tetap berada di luar radius bahaya,” jelasnya.

PVMBG mengimbau warga untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 6 km dan area sektoral Barat–Utara–Timur Laut sejauh 7 km dari puncak kawah. Warga juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum diverifikasi.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat, langkah-langkah penanganan bencana di kawasan Lewotobi diharapkan mampu menjaga keselamatan sekaligus mengembalikan harapan hidup yang lebih baik bagi para penyintas.