Probolinggo || Jatenggayengnews.com – Kekisruhan di kawasan Pedagang Kaki Lima (PKL) Gelora Merdeka Kraksaan makin memanas. Setelah sebelumnya dipindahkan ke belakang stadion atas perintah Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo, para PKL akhirnya memilih kembali berjualan di depan akibat sepinya pembeli. Penataan pun jadi amburadul: sebagian pedagang berpindah ke sisi utara, sebagian lainnya ke timur.
Kini, mereka menghadapi masalah baru: dugaan pungutan liar (pungli) bermodus penyediaan listrik, dengan mencatut nama DKUPP. Para PKL mengaku bingung sekaligus resah.
“Kami disuruh bayar Rp5.000 sampai Rp10.000 buat listrik. Katanya dari DKUPP. Tapi dari DKUPP bilang mereka nggak pernah urus listrik. Jadi siapa sebenarnya yang narik uang ini? Paguyuban juga sekarang pecah, nggak kompak kayak dulu,” keluh seorang pedagang.
Keresahan para PKL ini mendorong mereka mengadukan masalah ke Amanto, pihak yang ditunjuk DKUPP untuk mengelola kegiatan PKL di Gelora. Amanto membantah keras keterlibatan dinas tersebut.
“Saya juga sudah ditelpon soal ini. Saya tanya ke atasan, dipastikan DKUPP tidak pernah menyediakan listrik atau menarik iuran apa pun di Gelora. Kalau ada yang mengatasnamakan DKUPP, itu jelas bohong,” tegas Amanto.
Sumber di lapangan menyebutkan, ada dua jalur listrik yang digunakan PKL. Satu dikelola perorangan, yang dikaitkan dengan seseorang bernama Edy. Jalur lain, yang diambil dari stop kontak di sisi timur, sempat diklaim sebagai fasilitas DKUPP — namun sudah dibantah keras oleh dinas.
Seorang PKL lain, yang meminta namanya dirahasiakan, menduga ada permainan kotor di balik kisruh ini.
“Kalau DKUPP nggak urus listrik, berarti ada oknum yang manfaatkan nama dinas buat narik uang. Ini harus dibongkar. Jangan sampai kami jadi korban,” ujarnya dengan nada geram.
Situasi ini semakin menguatkan dugaan adanya penyalahgunaan nama instansi pemerintah untuk pungutan liar. Para PKL mendesak aparat penegak hukum segera turun tangan, membongkar praktik haram ini, dan menertibkan kawasan Gelora Merdeka dari segala bentuk pungli berkedok fasilitas umum.
Harapan mereka sederhana: bisa berjualan dengan tenang, tanpa tipu daya dan permainan kotor dari oknum serakah.






