Garut||jatenggayengnews.com – Di usianya yang sudah senja, Katmini (65) dan suaminya, Harun (70), terus menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Pasangan yang tinggal di Desa Kolot, Kecamatan Cilawu, Garut, Jawa Barat, ini telah berjualan kandang ayam selama lebih dari tiga dekade. Dengan keterbatasan fisik dan ekonomi, mereka memikul kandang ayam buatan sendiri menggunakan sebilah bambu, keluar masuk kampung untuk mencari pembeli.
Katmini dan Harun mengandalkan hasil olahan bambu sebagai sumber penghidupan. Setiap minggu, setidaknya dua kali mereka berkeliling ke wilayah sekitar Cilawu, Bayongbong, hingga Garut Kota untuk menawarkan kandang ayam hasil tangan mereka. Harga kandang ayam yang mereka jual pun hanya Rp 50 ribu per unit. Hasil penjualan itu mereka gunakan untuk membeli bahan pokok seperti beras dan bahan baku bambu.
Keseharian mereka penuh dengan perjuangan. Dengan baju yang lusuh dan sandal jepit yang sudah usang, Katmini tetap berjalan menyusuri kampung-kampung tanpa mengeluh. Ia tidak peduli dengan pandangan orang lain, hanya fokus untuk berjualan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Katmini mengaku, pekerjaannya ini adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan setelah sebelumnya mencoba berdagang barang lain yang kurang laku di pasaran.
Harun, suaminya, menambahkan bahwa pembuatan kandang ayam biasanya memakan waktu sehari penuh. Namun, jika mereka sakit atau kelelahan, pekerjaan itu harus ditunda. Kandang ayam mereka biasanya diminati oleh para pecinta ayam pelung, ayam aduan, hingga kelinci. Meski usahanya melelahkan, Katmini dan Harun tidak pernah berpikir untuk meminta-minta. Bagi mereka, lebih baik berjualan meski hasilnya kecil daripada mengharapkan belas kasihan.
Meski hidup dalam keterbatasan, pasangan ini jarang mendapat bantuan. Katmini mengaku pernah menerima bantuan beras dari pemerintah sekali, namun setelah itu tidak pernah lagi. Beberapa warga di sepanjang jalur yang mereka lalui sering memberikan air minum atau makanan sederhana sebagai bentuk perhatian. Dedi (54), salah satu warga yang mengenal mereka sejak lama, mengakui kekagumannya pada keteguhan hati Katmini dan Harun. Menurutnya, pasangan ini sudah berjualan kandang ayam sejak awal tahun 2000-an dan selalu setia menjalani profesinya.
Perjuangan Katmini dan Harun adalah cerminan nyata dari semangat hidup yang pantang menyerah. Meski pekerjaan mereka berat dan hasilnya tidak seberapa, mereka tetap memilih jalan hidup yang mandiri tanpa berharap belas kasihan orang lain. Di tengah kondisi yang serba sulit, ketekunan mereka menjadi inspirasi bahwa hidup, seberat apa pun, tetap harus diperjuangkan dengan kerja keras dan penuh keikhlasan.






