Lampu Hijau dari Pusat, Barongan Blora Sah Dikawal Kementerian Kebudayaan Tembus Unesco

Nasional10 Dilihat

JAKARTA || jatenggayengnews.com – Setelah bulan Oktober kemarin mendapatkan dukungan dari para seniman reog dan jajaran Pemkab Ponorogo. Yang dituangkan dalam naskah Memorandum of Understanding (MoU) atau kesepakatan bersama antara Plt. Bupati Ponorogo dengan Bupati Blora, disaksikan para pelaku seni. Kini, giliran Barongan Blora mendapatkan dukungan dari Kementerian Kebudayaan untuk bisa masuk sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia di Unesco melalui jalur USL extension Reog Ponorogo.

Dukungan ini disampaikan oleh Undri, S.S., M.Si. Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan; Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, serta jajarannya. Ketika menerima audiensi Pemkab Blora tentang Penyampaian Rencana Pengusulan
Barongan Blora sebagai WBTb UNESCO melalui
Skema Perluasan (Extension) Reog Ponorogo, Kamis (5/11/2026).

Bertempat di Ruang Rapat Ditjen Diplomasi, Promosi, dan Kerjasama Kebudayaan, Undri menyatakan kesiapannya untuk mengawal usulan para seniman Barongan Blora bersama Pemkab Blora ini. Terlebih prosesnya telah didampingi langsung oleh Tim Asistensi Unesco yang sebelumnya juga mengawal pengusulan Reog Ponorogo.

“Kami berkomitmen untuk memfasilitasi. Tinggal bagaimana target dari pihak Pemkab menghendaki di 2027 atau di 2028. Tahapan pengusulannya akan kita sampaikan, apalagi ini sudah dikawal langsung para pakar. Senimannya juga hadir. Tadi juga telah disampaikan bahwa Ponorogo tidak keberatan dan setuju. Riset juga telah dilaksanakan sejak Agustus. Tinggal dimatangkan pengisian dossier nya. Dilengkapi dengan video film dokumenter dan kelengkapan dokumen administrasi pendukungnya yang sesuai standart,” ucap Undri.

BACA JUGA  Dana Bos Dinas Pendidikan Banjarbaru Rp 6 Miliar Mendapat Sorotan Tajam dari BPK Saat DPR Minta KPK Campur Tangan

Menurutnya, form akan dilihat direvisi direview bersama dengan Kementerian Kebudayaan sebelum dikirim ke Unesco untuk mendapatkan pengakuan WBTb jalur USL Extension Reog Ponorogo.

“Kalau lolos, ini bisa menjadi pola baru, bisa menjadi contoh warisan budaya tak benda oleh daerah lain. Kami akan mendukung, siap komunikasi lebih lanjut. Selagi administrasi kuat dan bahan lengkap, pasti saat seleksi di Kementerian Kebudayaan bisa dikuatkan,” tambahnya.

Sementara itu, Harry Waluyo, Fasilitator ICH Asia Pacific, menerangkan bahwa jalur untuk masuk ditetapkan sebagai WBTb Unesco bisa ditempuh melalui dua cara. Bisa pengusulan mandiri, atau jalur extension (perluasan) dari WBTb yang sudah ada.

“Dari kedua jalur ini. Jika mengusulkan mandiri tahapannya lebih panjang dan kesulitannya lebih kompleks karena akan bersaing dengan usulan lainnya, tidak hanya dari Indonesia namun juga negara lain yang juga didaftarkan ke Unesco. Namun jika menempuh jalur extension atau perluasan, prosesnya akan lebih mudah. Ibarat sudah ada rumahnya di Unesco, kita tinggal masuk karena seni budayanya serumpun dengan Reog. Bukan berarti Barongan bagian dari Reog, namun berhimpun dengan karakter khas daerah masing-masing,” ungkapnya.

BACA JUGA  Bupati Demak Hadiri Farmer Field Day Wiwitan MT-1 di Desa Harjowinangun Dempet

Adapun Damardjati Kun Marjanto, salah satu tim asistensi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, menerangkan jika Barongan Blora merupakan seni kerakyatan yang memiliki nilai nilai budaya dan memerlukan perlindungan mendesak agar kelestariannya bisa terus terjaga.

“Berdasarkan penelitian yang kami lakukan sejak Agustus di Blora. Eksistensi Barongan Blora tidak merata di semua wilayah, meskipun semua Kecamatan memiliki paguyuban kesenian. Banyak juga yang kami temukan topeng barongannya mulai sawangen karena sudah lama tidak dipakai pentas. Hingga para sesepuh yang kesulitan mencari bibit bibit muda penerusnya. Oleh karena itu, Barongan Blora bisa masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak (List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding). Yakni jalur khusus untuk elemen budaya yang dinilai terancam punah atau kelangsungan hidupnya dalam bahaya besar. Melalui jalur ini, komunitas dan negara bisa mendapatkan bantuan internasional untuk melakukan upaya pelestarian yang intensif. Seperti halnya Reog Ponorogo,” ungkapnya.

BACA JUGA  Harga Cabai Meroket di Subulussalam, Pedagang dan Warga Resah

Selanjutnya untuk memperkenalkan sejarah dan karakter Barongan Blora. Disampaikan langsung oleh Dr. Muksin, S.Sn., M.Sn., Guru Besar Seni Rupa dari Institut Teknologi Bandung. Yang merupakan adik dari Prof. Slamet Guru Besar ISI Surakarta asli Blora.

Mewakili rombongan Pemkab Blora, Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah Kab. Blora; Drs. Heru Eko Wiyono, M.Si., berterimakasih kepada jajaran Kementerian Kebudayaan yang telah menerima audiensi dan konsultasi pengusulan Barongan Blora sebagai Warisan Budaya Takbenda Unesco.

“Apakah targetnya 2027 atau 2028, akan kami diskusikan yang lebih mendalam dengan tim dan konsultasi dengan Pak Bupati. Mana yang terbaik itu yang akan kami pilih. Dengan adanya restu dari Kementerian Kebudayaan, kami semakin mantap untuk melangkah melanjutkan tahapan pendaftaran Barongan Blora ke dalam Unesco,” ucapnya.

Turut hadir, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kab. Blora; Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinporabudpar, Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Dinas Kominfo; Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida; Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Blora; hingga Ketua Paguyuban Barongan Kabupaten Blora. (*)

Gambar 3
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2