GROBOGAN || JatengGayengNews.com — Penerapan pertanian modern melalui metode Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) mulai diterapkan di Kabupaten Grobogan. Metode tersebut dinilai mampu mempercepat masa tanam, menekan biaya produksi, serta meningkatkan produktivitas padi.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah, Arif Surahman, mengatakan penerapan PM-AAS merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat tanam sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian. Hal itu disampaikannya saat Gerakan Tanam Bersama dengan metode PM-AAS di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Rabu (30/9/2026).
Menurut Arif, secara nasional hingga Desember 2026 ditargetkan penanaman mencapai sekitar 1 juta hektare. Sementara untuk Kabupaten Grobogan, alokasi penanaman mencapai sekitar 7.800 hektare dan target tersebut disebut telah tercapai.
“Benih telah tersalurkan dan selanjutnya dilaksanakan penanaman. Dukungan pembukaan saluran irigasi juga menjadi faktor positif dalam penerapan metode PM-AAS,” ujar Arif.
Ia menjelaskan, PM-AAS tidak sekadar merupakan pola tanam, tetapi mengintegrasikan berbagai teknik dan teknologi pertanian untuk menghemat biaya, mempercepat proses tanam, serta meningkatkan hasil produksi. Metode tersebut juga telah diuji coba di 12 provinsi.
Berdasarkan hasil uji coba, rata-rata produksi melalui metode PM-AAS mencapai sekitar 10,4 ton per hektare, bahkan di sejumlah lokasi mampu mencapai sekitar 12 ton per hektare.
“Tujuan utama penerapan metode PM-AAS adalah meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta pendapatan dan kesejahteraan petani,” jelasnya.
Di Grobogan, penerapan pertanian modern juga diarahkan pada penggunaan teknologi tanam yang lebih efisien. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Wakid Mutowal mengatakan sistem tanam benih langsung atau Tabela diharapkan dapat mempercepat proses tanam sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
Menurut Wakid, peran penyuluh pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan secara tepat oleh petani. Saat ini, satu penyuluh pertanian di Grobogan rata-rata memiliki wilayah binaan sekitar tiga hingga empat desa.
“Kita melalui kerja keras dan sinergi seluruh penyuluh pertanian menargetkan produksi padi tahun depan mencapai 1 juta ton,” katanya.
Selain meningkatkan produksi padi, Pemerintah Kabupaten Grobogan juga mulai mendorong diversifikasi komoditas pertanian. Salah satunya melalui pengembangan kedelai yang ditanam di sela-sela tanaman jagung. Untuk 2027, pemerintah daerah merencanakan pengembangan budidaya kedelai seluas sekitar 5.000 hektare.
Penerapan PM-AAS di Grobogan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan tanam bersama. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari perubahan sistem pertanian dari pola konvensional menuju pertanian yang lebih mekanis, terukur, efisien, dan berbasis teknologi.
Dengan dukungan irigasi, ketersediaan benih, mekanisasi, penyuluh, serta pendampingan lintas instansi, Grobogan menargetkan peningkatan produksi sekaligus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah sentra pangan di Jawa Tengah.
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg






