1.344 Warga Manggarai Masih Bertahan di Pengungsian

Nasional47 Dilihat

MANGGARAI || Jatenggayengnews.com – Memasuki masa transisi pemulihan pascabencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai terus mengintensifkan penanganan terhadap masyarakat terdampak. Hingga Kamis (1/10/2026), sebanyak 1.344 jiwa dari 377 kepala keluarga (KK) masih bertahan di 17 titik posko pengungsian terpadu.

Berdasarkan rekapitulasi data resmi Posko BPBD Kabupaten Manggarai, jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan data awal yang mencatat 2.369 jiwa atau 699 KK. Penurunan terjadi seiring ditutupnya sejumlah posko di wilayah Cibal, di antaranya Desa Langkas dan sebagian Desa Beamese, setelah warga memilih berpindah ke posko mandiri.

Meski jumlah pengungsi berkurang, ratusan keluarga masih belum dapat kembali ke rumah masing-masing. Kondisi rumah yang mengalami kerusakan berat dan dinilai tidak lagi layak dihuni menjadi salah satu faktor utama warga tetap bertahan di pengungsian.

BACA JUGA  Situs Purbakala Hancur, Anton Charliyan : Usut Tuntas Pelakunya

Selain kerusakan bangunan, warga juga masih menghadapi ancaman tanah bergerak dan tanah retak. Rasa trauma serta kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan turut menjadi pertimbangan warga untuk belum kembali ke permukiman.

Posko pengungsian terpadu yang masih aktif saat ini tersebar di lima kecamatan, yakni Kecamatan Reok, Cibal, Cibal Barat, Wae Ri’i, dan Lelak. BPBD bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi.

Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan yang berada di lokasi pengungsian. Berdasarkan data BPBD, terdapat 346 jiwa kelompok rentan yang saat ini berada dalam pemantauan tim kesehatan dan relawan.

BACA JUGA  570 Pemudik Diberangkatkan Gratis, Kapolresta Surakarta Pastikan Perjalanan Aman

Kelompok rentan tersebut terdiri atas 114 balita, 107 anak-anak, 79 lanjut usia (lansia), 32 ibu menyusui, sembilan penyandang disabilitas, serta lima ibu hamil. Mereka mendapatkan pemantauan dan penanganan sesuai kebutuhan selama berada di posko pengungsian.

Sebaran kelompok rentan terbesar tercatat di Posko Wancang, Desa Ladur, dengan 96 jiwa. Selanjutnya Posko Kadutu, Dusun Dosi, Desa Salama, sebanyak 70 jiwa, serta Posko Teber, Desa Beamese, dengan 59 jiwa.

Sementara itu, pendataan kerusakan bangunan akibat bencana juga terus dilakukan oleh petugas di lapangan. Hingga periode pemutakhiran data tersebut, jumlah bangunan yang telah masuk dalam pendataan kerusakan mencapai 31.651 unit.

BACA JUGA  Menteri UMKM Apresiasi Rumah Layanan Kemasan

Pendataan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana, terutama untuk menentukan kebutuhan penanganan, perbaikan maupun dukungan bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan.

BPBD Kabupaten Manggarai terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, petugas kesehatan, relawan, dan unsur terkait lainnya untuk memastikan masyarakat terdampak mendapatkan perlindungan serta pelayanan selama masa transisi pemulihan.

Gambar 3
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2