MOJOKERTO||Jatenggayengnews.com_Proyek strategis pembangunan jaringan pipa transmisi baru Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Mojolagres menjadi sorotan. Proyek bernilai hampir Rp10 miliar yang dibiayai melalui APBD Provinsi Jawa Timur itu diduga belum sepenuhnya menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lokasi pekerjaan.
Sorotan tersebut muncul setelah sejumlah pekerja disebut terlihat tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) secara layak dan memadai saat menjalankan aktivitas pekerjaan. Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana penerapan standar keselamatan kerja dalam proyek yang menggunakan anggaran pemerintah tersebut.
Penerapan K3 menjadi aspek penting dalam setiap pekerjaan konstruksi. Terlebih, pembangunan jaringan pipa melibatkan aktivitas fisik serta penggunaan berbagai peralatan yang memiliki potensi risiko terhadap keselamatan pekerja.
Penggunaan APD seperti helm keselamatan, rompi, sepatu pelindung maupun perlengkapan keselamatan lainnya semestinya menjadi perhatian utama selama pekerjaan berlangsung.
Proyek pembangunan pipa transmisi baru SPAM Regional Mojolagres tersebut berada di bawah naungan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan informasi yang beredar, pengelolaan proyek mengacu pada kontrak nomor 000.3/116008/105.4/2026 tertanggal 6 Juli 2026. Proyek tersebut memiliki masa pelaksanaan selama 175 hari kalender.
Sementara pelaksana proyek disebut merupakan CV Nurdin Bersaudara. Pengawasan terhadap pekerjaan juga menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh proses pembangunan berjalan sesuai kontrak, standar teknis, serta ketentuan keselamatan kerja.
Dengan nilai proyek yang hampir mencapai Rp10 miliar, pelaksanaan pekerjaan tentu menjadi perhatian masyarakat. Selain memastikan pembangunan berjalan sesuai target, aspek keselamatan pekerja seharusnya tidak boleh diabaikan.
Dugaan mengenai kurang optimalnya penggunaan APD tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Klarifikasi dari pelaksana maupun instansi yang bertanggung jawab diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Pasalnya, keselamatan pekerja bukan hanya persoalan administratif, tetapi menyangkut perlindungan terhadap setiap orang yang terlibat langsung dalam proses pembangunan.
Masyarakat pun berharap proyek SPAM Regional Mojolagres dapat berjalan sesuai ketentuan, baik dari sisi kualitas pekerjaan, penggunaan anggaran, ketepatan waktu, maupun penerapan standar K3.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur penyediaan air minum tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga tetap menjamin keselamatan para pekerja yang berada di garis depan pelaksanaan proyek.






