JAKARTA || JATENGGAYENGNEWS.COM-Fenomena penggunaan gelar akademik yang tidak jelas asal-usulnya mendapat sorotan. Praktik tersebut dinilai berpotensi menyesatkan masyarakat karena gelar seperti profesor, doktor, magister, maupun insinyur kerap menjadi simbol yang memengaruhi kepercayaan publik terhadap seseorang.
Dalam tulisan tersebut, Wilson Lalengke mengingatkan insan pers agar tidak mudah menerima klaim gelar dari narasumber tanpa melakukan pemeriksaan terhadap institusi yang menerbitkannya. Menurutnya, setiap gelar yang dicantumkan dalam pemberitaan harus memiliki dasar dan asal-usul yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menilai media memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga akurasi informasi. Jangan sampai pers justru ikut memperkuat informasi yang belum terverifikasi hanya karena seorang narasumber tampil dengan atribut akademik tertentu.
Wilson juga menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak hanya berlaku pada pemberitaan media, tetapi juga pada spanduk, selebaran, buletin, hingga unggahan media sosial. Masyarakat diminta lebih kritis dalam menerima informasi dan tidak menjadikan gelar sebagai satu-satunya ukuran kapasitas seseorang.
Dari perspektif etika, penyalahgunaan gelar dianggap dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan dan informasi. Gelar akademik semestinya menjadi bentuk pengakuan atas proses pendidikan dan keilmuan, bukan sekadar alat untuk membangun citra atau kewibawaan.
Karena itu, media massa dan masyarakat diharapkan bersama-sama mengedepankan verifikasi serta kejujuran dalam menyampaikan informasi. Transparansi mengenai latar belakang akademik seseorang dinilai penting agar publik tidak menjadi korban manipulasi simbol dan klaim keahlian yang tidak dapat dibuktikan.






