Doktor Kukuh Kurbankan 10 Kambing di Masjid USM, Wujud Ketaatan dan Kepedulian Sosial

SEMARANG ||Jatenggayengnews.com- Takmir Masjid Baitur Rosyid Universitas Semarang (USM) melaksanakan penyembelihan hewan qurban usai pelaksanaan Salat Idul Adha di area kampus Universitas Semarang, Jalan Soekarno Hatta, Pedurungan, Semarang.
Dalam kegiatan tersebut, dosen S1 dan S2 Hukum USM, Dr. Drs. Adv. H. Kukuh Sudarmanto Alugoro, BA, S.Sos, SH, MH, MM, melaksanakan qurban sebanyak 10 ekor kambing. Tradisi qurban tersebut disebut telah rutin dilakukan selama puluhan tahun sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, syiar agama, sekaligus kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Qurban merupakan ibadah yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya. Dengan menabung secara disiplin dan istiqomah selama satu tahun, maka ibadah qurban dapat terlaksana dengan baik,” ujar Kukuh Sudarmanto.
Pada Idul Adha tahun ini, panitia Masjid Baitur Rosyid USM menyembelih total 4 ekor sapi dan 17 ekor kambing. Daging qurban kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar dan pihak yang berhak menerima.
Menurut Kukuh, qurban kambing merupakan salah satu bentuk ibadah nyata saat Hari Raya Idul Adha. Dalam Islam, qurban atau udhiyah tidak hanya dimaknai sebagai penyembelihan hewan semata, tetapi juga memiliki makna syariat, solidaritas sosial, dan perekat hubungan kemasyarakatan.
Ia menjelaskan, kambing termasuk kategori Al-An’am yang diperbolehkan untuk qurban selain domba, sapi, dan unta. Satu ekor kambing diperuntukkan bagi satu orang yang berqurban, sedangkan satu ekor sapi dapat diperuntukkan bagi tujuh orang.
Dalil utama ibadah qurban tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 2 yang berbunyi, “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” Selain itu, hadis riwayat Muslim menjelaskan bahwa tidak ada amalan pada Hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban.
Kukuh menambahkan, masyarakat pada umumnya telah memahami bahwa qurban adalah bentuk berbagi kepada sesama, khususnya kepada tetangga dan warga kurang mampu sesuai maqashid syariat Islam.
“Qurban menjadi simbol ketaatan kepada Allah SWT sekaligus jembatan antara masyarakat yang mampu dengan mereka yang membutuhkan. Karena itu, qurban juga menjadi perekat sosial yang terus hidup setiap tahun,” katanya.
Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi qurban juga memiliki kekhasan tersendiri. Di Jawa misalnya, terdapat tradisi “ngeblek”, yakni kambing qurban diarak keliling kampung sebelum disembelih agar masyarakat mengetahui dan turut merasakan semangat kebersamaan dalam berqurban. Sementara di Minangkabau, pembagian daging qurban dilakukan dengan sistem nagari yang mengedepankan pemerataan dan kebersamaan masyarakat.