GROBOGAN || jatenggayengnews.com – Menjelang bulan suci Ramadan, sejumlah siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, menyuarakan penolakan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah selama masa puasa. Penolakan tersebut muncul di berbagai daerah dan sekolah, meski tidak merujuk pada institusi pendidikan tertentu.
Para siswa menilai, pemberian makan siang gratis pada siang hari selama Ramadan dianggap kurang tepat dan tidak sejalan dengan nilai-nilai ibadah puasa. Mereka berpendapat bahwa puasa merupakan bagian penting dari pendidikan karakter dan pembentukan spiritual yang seharusnya dihormati oleh semua pihak.
Penolakan ini semakin mendapat perhatian publik setelah beredarnya sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan siswa-siswi menolak makanan MBG saat jam sekolah di bulan puasa. Dalam video tersebut, para siswa menyampaikan kekhawatiran bahwa menerima makan siang gratis di siang hari dapat mengurangi makna dan esensi ibadah puasa.
“Puasa mengajarkan kami untuk menahan diri dan memperkuat nilai-nilai keagamaan. Jika di siang hari justru diarahkan untuk makan, kami khawatir hal itu bertentangan dengan tujuan pendidikan karakter,” ujar salah satu siswa dalam pernyataannya.
Sebagian siswa juga mengusulkan agar Program Makan Bergizi Gratis selama Ramadan ditiadakan sementara atau dialihkan dalam bentuk lain, seperti bantuan uang saku, paket sembako untuk dibawa pulang, atau penyesuaian waktu pelaksanaan setelah bulan puasa berakhir.
Menurut mereka, Ramadan merupakan momentum yang hanya datang sekali dalam setahun dan memiliki makna penting dalam melatih kedisiplinan, kesabaran, serta meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan.
Aspirasi para siswa ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan pihak terkait agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tetap selaras dengan nilai-nilai religius, pendidikan karakter, serta kearifan lokal, khususnya selama bulan suci Ramadan.






