Yahya Boh Kaye Ngamuk di SPBU Saat Banjir Melanda

Peristiwa221 Dilihat

ACEH || jatenggayengnews.com – Situasi memanas terjadi di SPBU Idi Rayeuk pada Minggu sore (30/11/2025) ketika tokoh masyarakat Tanoh Anoe sekaligus mantan anggota DPRK Aceh Timur, Yahya Boh Kaye, mengamuk akibat layanan pengisian BBM tak kunjung dibuka di tengah kondisi darurat banjir. Seorang petugas SPBU bahkan nyaris terkena pukulan menggunakan besi pengukur minyak saat ketegangan mencapai puncaknya.

Keributan bermula sekitar pukul 15.00 WIB ketika ratusan warga mendatangi SPBU untuk memperoleh BBM, kebutuhan vital di tengah banjir besar yang melumpuhkan wilayah tersebut. Namun layanan tak kunjung dibuka selama berjam-jam, membuat warga semakin geram karena kelelahan, kelaparan, dan minim logistik.

Melihat situasi yang semakin panas, Yahya Boh Kaye turun langsung ke lokasi dan mempertanyakan alasan SPBU menutup layanan di saat masyarakat sangat membutuhkan bantuan.

BACA JUGA  Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan Karyawan Barbershop Hingga Tewas

“Masyarakat sedang susah, sedang ditimpa musibah. Mengapa SPBU tidak membuka layanan? Ada apa sebenarnya?” tegas Yahya di hadapan warga.

Sejumlah saksi menyebutkan bahwa saat emosi warga memuncak, seorang petugas SPBU hampir terkena pukulan dengan besi pengukur minyak karena dianggap mengabaikan kebutuhan masyarakat.

Sebelum keributan pecah, pihak SPBU mengaku kehabisan BBM sehingga tidak bisa membuka pelayanan. Namun Yahya meragukan klaim tersebut dan meminta pengecekan tangki utama dilakukan langsung di hadapan warga.

Pengecekan pun dilakukan menggunakan besi pengukur minyak dan hasilnya mengejutkan. Ternyata stok BBM masih ada.

Temuan itu memicu kemarahan warga yang menduga SPBU sengaja menahan distribusi BBM saat masyarakat sedang berupaya menyelamatkan diri dari banjir.

Setelah desakan keras dari warga dan tekanan langsung dari Yahya Boh Kaye, sekitar pukul 16.00 WIB SPBU akhirnya membuka layanan. Warga langsung memadati area pengisian BBM, sementara sebagian lainnya berteriak meminta pemerintah menindak tegas SPBU yang diduga bermain curang.

BACA JUGA  Perintis Presisi Polrestabes Semarang Ringkus Konvoi Motor Gangster Bikin Keresahan di Semarang

Hendrika Saputra, warga dan penyintas tsunami Aceh 2004, sangat menyesalkan tindakan SPBU yang dianggap tidak manusiawi.

“Warga sangat menderita. Rakyat kelaparan, listrik mati, minyak tidak ada di sejumlah SPBU. Padahal SPBU Idi Rayeuk ada stok, tetapi tidak diberikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai sikap SPBU semakin memperparah penderitaan warga yang harus bertahan dalam gelap gulita tanpa listrik dan pasokan logistik.

Situasi sempat sangat memanas. Teriakan ancaman untuk membakar SPBU terdengar dari warga yang frustrasi. Beruntung, ketegangan mereda setelah layanan akhirnya dibuka.

Yahya Boh Kaye menegaskan bahwa langkahnya adalah murni panggilan kemanusiaan.

BACA JUGA  Curah Hujan dan Angin Kencang Tumbangkan Pohon Asem, Pengendara Motor Jadi Korban

“Ini panggilan jiwa. Kalau masyarakat susah, kita tidak boleh diam,” ujarnya.

Fitrah Saputra, salah satu warga, mengapresiasi aksi cepat Yahya yang dianggap sangat membantu masyarakat di tengah bencana.

Setelah insiden di Idi Rayeuk, Yahya berencana mendatangi SPBU lainnya di Aceh Timur untuk memastikan tidak ada manajemen SPBU yang mempermainkan stok BBM di tengah bencana.

Ia meminta pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat penegak hukum mengambil tindakan tegas terhadap SPBU yang terbukti menahan distribusi.

Selain itu, Yahya juga turun langsung berkoordinasi dengan SPBU Seuneubok Punteut di Kecamatan Idi Timur untuk memastikan layanan kembali normal. Ia bahkan menurunkan tim PLN guna memperbaiki genset SPBU yang rusak.

“Kita ingin memastikan semua SPBU berjalan normal agar masyarakat bisa memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan cepat,” ujarnya.