Ormas Gencar Edukasi Konservasi di Sembilan Kampung Pintu Rime Gayo

Tentang Kami223 Dilihat

Redelong || Jatenggayengnews.com – Empat organisasi kemasyarakatan (Ormas) menggelar diskusi penyadartahuan tentang konservasi dengan masyarakat di sembilan desa di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, pada 10-15 November 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) yang didukung oleh Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia.

Keempat ormas tersebut adalah Gayo Alas Conservation Center (GACC), Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara (LIPGA), Komunitas Relawan Hulu DAS Peusangan (Korhudas Peusangan), serta Koperasi Jasa Syariah Wisata Alam Gayo (Kopwis Alga).

Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi lingkungan dan satwa liar, khususnya gajah, serta mencari solusi bersama dalam mengatasi konflik antara manusia dan gajah.

BACA JUGA  Sosok Dedi Mulyadi Pemimpin Tanpa Sekat Yang Dicintai oleh Rakyat Jawa Barat

Ketua LSM GACC, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa pihaknya berdiskusi mengenai “Pelestarian Lingkungan dalam Adat Gayo” ke sembilan kampung tersebut. Ia menekankan pentingnya regulasi budaya lokal yang solutif dan kebijakan bersama dalam menerapkan aturan konservasi berbasis budaya, terutama di desa-desa yang multietnis dan multikultur.

Sementara itu, Ketua Kopwis Alga, Khalisuddin, mengajak masyarakat untuk mengembangkan wisata yang terkait konservasi maupun potensi wisata gajah. “Ada beberapa usulan dari masyarakat yang kita kumpulkan, kita berdiskusi bagaimana langkah-langkah pengembangannya, karena yang terjadi hari ini, seolah gajah menjadi objek horor. Padahal ada potensi wisata yang menghasilkan bagi kampung,” ucap Khalis.

BACA JUGA  Kodam IV/Diponegoro Torehkan Prestasi pada LKJ TMMD ke-129, Dansatgas Raih Juara II dan Wartawan Juara I

Selain itu, Koordinator Korhudas Peusangan, Iwan Bahagia, menyampaikan tema diskusi “Pendekatan Konservasi Berbasis Solusi”, yang membahas berbagai bentuk spesies lokal yang perlu dipertahankan, termasuk tumbuhan yang biasa digunakan dalam ritual adat. Ketua LIPGA mengajak masyarakat untuk terlibat dalam menjaga kebersihan desa dan lebih peduli terhadap keberadaan hutan dan lingkungan sekitar.

Diskusi ini merupakan bagian dari program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), kolaborasi WWF dengan sembilan CSO lokal. Lima lembaga lain sedang melakukan diskusi lanjutan tentang upaya konservasi dengan masyarakat di beberapa kampung di Pintu Rime Gayo.

BACA JUGA  Pedangdut Adella Lusyana Jelita Alami Kecelakaan di Tol Sragen, Mobil Ringsek

Kampung yang dikunjungi keempat lembaga ini adalah Kampung Arul Gading, Blang Rakal, Pancar Jelobok, Arul Cincin, Belang Ara, Musara Pakat, Pantan Lah, Negeri Antara, dan Kampung Simpang Lancang.

Gambar 3
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg
Gambar 1 Gambar 2