SERANG || jatenggayengnews.com — Provinsi Banten. Suasana kebersamaan dan semangat pelestarian budaya terasa kental dalam peringatan Milad ke-2 Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) yang digelar meriah di Kota Serang, Sabtu (18/10) malam.
Ratusan anggota, para sesepuh, tokoh masyarakat, hingga perwakilan perguruan silat dari berbagai daerah berkumpul dalam suasana penuh keakraban, menjadikan malam itu bukan sekadar perayaan, melainkan momen memperkuat persaudaraan dan menjaga warisan leluhur.
Kegiatan dibuka dengan doa bersama dan laporan panitia, lalu dilanjutkan sambutan Ketua Umum TTKKBI H. Tubagus Arif Hidayat.Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan dan menghormati perbedaan antaraliran silat di tanah air.
“Kita semua satu keluarga besar dalam TTKKBI. Mari jaga kebersamaan, hormati perbedaan, dan terus lestarikan budaya bela diri tradisional sebagai warisan leluhur,” ujar Tubagus Arif penuh semangat.
Hadir pula sejumlah tamu kehormatan seperti perwakilan Polda Banten, Ketua MUI Kabupaten Serang, Kabid Pariwisata Kabupaten Serang Dito mewakili Bupati Serang, Ketua DPRD Kota Bandar Lampung Tubagus Mahardika serta pengurus TTKKBI dari berbagai daerah.
Dalam sambutannya, Dito menyampaikan apresiasi kepada TTKKBI atas perannya dalam memperkuat persaudaraan dan menjaga budaya bangsa.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Serang, kami mengucapkan selamat milad kedua untuk TTKKBI. Semoga terus menjadi wadah pelestarian budaya dan mempererat silaturahmi masyarakat,” ucapnya.
Puncak acara berlangsung khidmat saat pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum H. Tubagus Arif Hidayat. Potongan tumpeng pertama diberikan kepada para sesepuh dan pengurus, sebagai tanda penghormatan sekaligus doa agar organisasi terus solid dan maju.
Usai prosesi tumpeng, dilakukan penyerahan cinderamata kepada tamu undangan dari unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah, simbol eratnya kerja sama dan dukungan lintas lembaga terhadap pengembangan seni bela diri di Banten.
Suasana malam semakin sakral dengan digelarnya ritual keceran, tradisi khas TTKKBI untuk mengenang para karuhun dan guru besar silat terdahulu. Ritual ini menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur dan tekad menjaga nilai-nilai luhur budaya warisan nenek moyang.
Tak kalah menarik, acara juga diwarnai dengan tradisi “Rujakan Cimande”, sebuah prosesi simbolik yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dengan segala rasa — manis, asam, dan pahit.
“Rujakan Cimande ini mengajarkan kita bahwa perjuangan dan persaudaraan tak lepas dari berbagai rasa. Tapi semua berpadu dalam satu cita: kebersamaan,” tutur salah satu sesepuh Cimande saat memimpin prosesi.
Sebagai penutup, tari tradisional Banten yang dipersembahkan oleh Ketua DPW TTKKBI Provinsi Banten menambah semarak perayaan. Tarian ini menjadi penegasan bahwa bela diri dan kesenian adalah dua sisi budaya yang saling menguatkan.
Dengan semangat “Ngajaga Warisan, Ngarumat Persaudaraan”, Milad ke-2 TTKKBI bukan hanya perayaan ulang tahun organisasi, tetapi juga penegasan komitmen untuk terus melestarikan budaya bela diri nusantara dan mempererat persaudaraan antarpendekar di seluruh Indonesia
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg






