JAKARTA || jatenggayengnews.com – Perjalanan ibadah umrah melalui PT Asiah Malika mengalami sejumlah persoalan serius. Berdasarkan kronologi yang disampaikan jamaah, masalah terjadi sejak keberangkatan pada 25 September 2026 hingga kepulangan, termasuk tiket penerbangan yang tidak tersedia atau tidak terkonfirmasi, perubahan maskapai, biaya tambahan yang harus ditanggung jamaah, serta keterlambatan kepulangan sejumlah jamaah.
Dalam kronologi tersebut disebutkan, sebanyak 15 jamaah dijadwalkan berkumpul di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 25 September 2026 pukul 14.00 WIB. Namun hingga sekitar pukul 15.00 WIB, belum terdapat perwakilan PT Asiah Malika yang datang mendampingi jamaah.
Sekitar pukul 16.00 WIB, jamaah mendapat informasi bahwa tiket penerbangan Jakarta–Singapura belum terbit sehingga keberangkatan harus ditunda. Jamaah kemudian diarahkan menuju Starlet Hotel Cengkareng.
Pada dini hari 26 September 2026, pihak biro disebut menyampaikan bahwa PT Asiah Malika tidak memiliki dana yang cukup untuk membayarkan tiket penerbangan bagi 15 jamaah. Sebagai solusi, disampaikan rencana menggadaikan dua kendaraan, sementara jamaah diminta menanggung kekurangan biaya tiket.
Untuk enam jamaah kloter Semarang, tercatat adanya tambahan pembayaran sebesar Rp27,5 juta dari empat jamaah dan Rp7 juta dari dua jamaah. Total tambahan yang terkumpul mencapai Rp40 juta. Dengan pembayaran sebelumnya, total biaya yang dikeluarkan enam jamaah tersebut mencapai Rp81,5 juta.
Kloter Semarang akhirnya diberangkatkan menggunakan Garuda Indonesia dengan rute Jakarta–Madinah pada 26 September 2026. Sementara kloter Tangerang dan jamaah lainnya juga diberangkatkan dengan biaya tambahan yang harus ditanggung sendiri dengan nominal berbeda-beda.
Selama berada di Madinah dan Makkah pada 26 September hingga 2 Oktober 2026, menurut kronologi, akomodasi hotel, konsumsi, serta transportasi jamaah secara umum dapat terpenuhi.
Kepulangan Kembali Bermasalah
Persoalan kembali muncul saat kepulangan kloter 9 hari pada 3 Oktober 2026. Dalam itinerary awal, penerbangan kepulangan tercantum menggunakan Qatar Airways.
Namun di Bandara Jeddah, jamaah mendapatkan informasi bahwa penerbangan yang digunakan berbeda, yakni India Air dengan rute Jeddah–Mumbai–Singapura, kemudian dilanjutkan Batik Air menuju Jakarta.
Dalam perjalanan tersebut, jamaah disebut tidak mendapatkan pendampingan dari tim PT Asiah Malika, termasuk dalam proses perjalanan menuju Singapura.
Pada 4 Oktober 2026, enam jamaah tiba di Bandara Changi, Singapura. Saat hendak melakukan check-in penerbangan lanjutan menuju Jakarta, pihak maskapai menyampaikan bahwa tiket yang diberikan PT Asiah Malika tidak terkonfirmasi dalam sistem.
Akibatnya, enam jamaah tidak dapat menggunakan tiket tersebut dan terlantar di Bandara Changi sekitar pukul 07.00 hingga 12.00 waktu setempat. Karena tidak mendapatkan penyelesaian yang memadai, jamaah akhirnya membeli tiket penerbangan sendiri untuk kembali ke Indonesia.
Pihak Taufik Akbar kemudian menyampaikan janji bahwa biaya yang telah dikeluarkan jamaah akan dikembalikan pada 10 Oktober 2026.
Kloter Berikutnya Kembali Mengalami Masalah
Persoalan serupa terjadi pada kloter Tangerang. Pada 5 Oktober 2026, jamaah memperoleh informasi bahwa penerbangan kepulangan menggunakan Qatar Airways pukul 22.15 waktu Jeddah.
Namun ketika jamaah tiba di bandara dan hendak check-in, kembali ditemukan masalah berupa tiket yang tidak terkonfirmasi oleh pihak maskapai. Akibatnya jamaah belum dapat diberangkatkan dan masih terlantar di Jeddah.
Jamaah juga diinformasikan atau diminta menanggung biaya hotel sebesar Rp200 ribu per orang. Hingga 6 Oktober 2026, berdasarkan kronologi tersebut, pihak PT Asiah Malika belum memberikan penyelesaian dan pertanggungjawaban yang jelas mengenai kondisi tersebut.
Jamaah Menunggu Pertanggungjawaban
Kronologi jamaah mencatat sedikitnya sejumlah persoalan, antara lain keberangkatan yang tidak sesuai jadwal karena tiket Jakarta–Singapura belum tersedia, biaya tambahan yang harus ditanggung jamaah, perubahan maskapai dari itinerary awal, kurangnya pendampingan selama perjalanan pulang, tiket Singapura–Jakarta yang tidak terkonfirmasi, serta kembali bermasalahnya tiket kepulangan kloter kedua dari Jeddah.
Sejumlah biaya yang telah dikeluarkan secara pribadi oleh jamaah disebut dijanjikan akan dikembalikan pada 10 Oktober 2026.
Atas rangkaian kejadian tersebut, jamaah membutuhkan kepastian mengenai pengembalian biaya pribadi serta pertanggungjawaban dari pihak yang menangani perjalanan umrah tersebut.






