Jakarta||Jatenggayengnews.com_Bagi kami di daerah, pagar tinggi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya itu, sudah biasa. Bahkan, Jakarta dan kota-kota besar lainnya itulah, yang mengajarkan kami ikut-ikutan membuat pagar.
Dulu, kami sama sekali tak mengenal apa itu pagar. Apalagi, pagar tinggi-tinggi. Batas desa/nagari pun tanpa pagar. Pagar kami tidak wujud dalam bentuk besi atau beton, tapi nilai-nilai yang tidak terlihat.
Tidak terlihat bukan berarti pagar kami tidak kuat dibandingkan besi atau beton. Bisa jadi tertancap jauh lebih dalam dan tinggi. Tapi, era “memakannya”. Kami mulai ikut-ikutan membuat pagar tinggi-tinggi.
Pagar tinggi-tinggi bukan simbol ketakutan atau kecemasan belaka. Tapi juga kenyamanan, privasi, dan prestise. Terlalu banyak uang bisa mendorong orang juga membuat pagar. Jadi, banyak faktor.
Gubernur DKI Jakarta melarang mall membuat pagar tinggi-tinggi, karena dianggap Jakarta tidak aman. Bisa ya, bisa tidak. Tapi, rumah-rumah orang kaya sudah lebih dulu membuat pagar tinggi-tinggi.
Kini, pagar tinggi-tinggi di kota-kota besar bermakna politik, bukan lagi sosial. Negara sedang tidak aman. Bakal terjadi demo besar-besaran. Demo yang dibuat-buat. Jangan, harusnya. Negara-bangsa ini akan rugi sendiri.
Yakinlah, keamanan dan kenyamanan itu penting bagi semua anak bangsa. Kecuali, bangsa asing yang menginginkan seperti di Iran. Iran malah membalas serangan terhadap negara lain, bukan negara yang menyerang dirinya. Semua dirugikan.






