BOGOR||Jatenggayengnews.com – Festival Film Jelek Vol. 2 bertajuk “Bertamasya” digelar di Cafe Dieu Geura, Kota Bogor, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi wadah alternatif bagi para sineas untuk menampilkan karya sekaligus merayakan keberanian berekspresi tanpa terbelenggu stigma kesempurnaan.
Mengusung semangat literasi visual dan kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab, festival ini menempatkan istilah “film jelek” sebagai bentuk satire kreatif. Label tersebut dimaknai sebagai ruang bagi kreator untuk berani mencoba, melakukan kesalahan, hingga terus belajar dalam proses penciptaan karya.
Penyelenggaraan festival ini juga berkaitan dengan semangat pemajuan kebudayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 28C ayat (1) UUD 1945, UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang menjamin partisipasi masyarakat dalam kehidupan budaya.
Festival Director Juan Hendri mengatakan, konsep “Bertamasya” merupakan gerakan budaya yang dirancang untuk menjangkau berbagai daerah. Menurutnya, festival tersebut hadir sebagai ruang temu dan kolaborasi bagi sineas independen di tengah tantangan industri perfilman nasional.
“Kami ingin membangun ruang perjumpaan dan kolaborasi bagi sineas independen. Melihat kondisi industri perfilman nasional yang menurun, kami hadir menumbuhkan kembali semangat berkarya tanpa dibatasi standar komersial semata,” kata Juan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang mendukung keberlangsungan acara, di antaranya Komunitas Bahasinema, Anamorfilm, Radio Ardan, Nobiplay, serta komunitas kreatif lainnya.
Dewan Pembina RUMAH HEBAT NUSANTARA, Cakranegara, yang hadir sebagai tamu kehormatan, menilai festival tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran bagi calon sineas. Ia mengajak para kreator untuk tidak takut menghasilkan karya yang belum sempurna selama memiliki nilai positif bagi masyarakat.
“Jangan pernah takut disebut belum sempurna. Selama karya kita membawa nilai, etika, dan manfaat bagi masyarakat, ia layak mendapatkan tempat untuk diapresiasi,” ujarnya.
Sementara itu, sutradara Lord Rangga VS Titan, Sigit Pradityo, menyebut Festival Film Jelek sebagai ruang belajar terbuka bagi para pelaku film. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan tempat bagi kreator untuk berani memulai dan berkembang.
Festival Film Jelek Vol. 2 “Bertamasya” menegaskan bahwa kreativitas membutuhkan ruang untuk tumbuh. Melalui kegiatan tersebut, para sineas diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki nilai budaya dan kontribusi bagi masyarakat.






