WONOSEKAR || jatenggayengnews.com – Sejumlah warga dan petani di sekitar Wonosekar mengeluhkan kondisi bendungan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Masalah utama terletak pada perbedaan ketinggian antara bendungan dan saluran irigasi, di mana saluran irigasi justru lebih tinggi dibandingkan bendungan. Akibatnya, meskipun air melimpah, aliran air tidak dapat mencapai lahan pertanian sebagaimana mestinya.
Pekerjaan pembangunan bendungan ini diduga bermasalah sejak tahap perencanaan dan pelaksanaan. PT yang ditunjuk sebagai kontraktor proyek dianggap tidak memperhatikan aspek fungsionalitas bendungan, sehingga hasil akhirnya terkesan asal bangun tanpa mempertimbangkan manfaatnya bagi irigasi.
Muncul dugaan bahwa terdapat pemotongan anggaran atau permainan proyek yang menyebabkan kualitas pembangunan tidak sesuai standar. Hal ini terlihat dari tinggi bendungan yang diduga sengaja dikurangi dari spesifikasi yang seharusnya demi menekan biaya, sehingga mengurangi efektivitasnya sebagai sistem pengairan.
Temuan ini hanyalah salah satu dari banyak proyek infrastruktur yang diduga dikerjakan asal-asalan tanpa memperhatikan standar teknis. Masyarakat juga mempertanyakan peran konsultan teknik serta petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dalam mengawasi pelaksanaan proyek ini. Mereka mendesak agar ada tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan fungsi bendungan tersebut.
file:///C:/Users/user/Downloads/WhatsApp%20Image%202026-07-14%20at%2009.15.01.jpeg






